Prasasti Cungrang

Terik mentari masih kami rasakan tatkala berkendara di raya Gempol, yang merupakan jalan arteri Malang – Surabaya. Walau sudah tidak terlalu macet seperti dulu, sebagai imbas selesainya tembusan jalan tol. Akan tetapi padatnya lalu lintas yang didominasi kendaraan-kendaraan besar cukup membuat kami gerah juga.
Sembari menyelinap disela-sela kendaraan berukuran raksasa, kami terus berbelok kearah Barat dari pertigaan Kejapanan. Tujuan kami adalah menyambangi sejenak situs bersejarah Cungrang, salah satu Prasasti yang turut andil dalam sejarah Pasuruan.
Lokasi Prasasti ini masih In Situ atau masih berada dilokasi aslinya, berada di jalan raya Surabaya – Malang masuk kearah Barat yaitu di Balai dusun Sukci, desa Bulusari Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Prasasti Cungrang ini dikeluarkan pada hari Jum’at Pahing tanggal 12 Suklapaksa, bukan Asuji tahun 851 Saka atau pada tanggal 18 September 929 Masehi.

Prasasti Cungrang merupakan peninggalan dari Mpu Sindok, yang bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa. Memerintah Kerajaan Medang dari tahun 929 hingga 947 yang memindahkan kerajaan Medang dari Poh Pitu, Kedu ke Watugaluh Jawa Timur. Menurut teori Van Bemmelen ada dugaan perpindahan tersebut dikarenakan Bencana Alam ( letusan Gunung Merapi ) yang mengakibatkan kehancuran Kerajaan dan sector perekonomian kerajaan Medang.
Tidak terlalu lama kami sudah tiba di lokasi prasasti, tidak ada pagar atau tempat khusus yang menjadi batas teritori disekitar prasasti. Hanya sebuah papan penunjuk sederhana yang terpasang sebagai identitas salah satu lokasi bersejarah di Kabupaten Pasuruan ini. Meski demikian, kondisinya masih cukup terawat, pula oleh warga sekitar turut dijaga dan dilestarikan dengan baik.

Isi dari Prasasti ini adalah Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa (Mpu Sindok) menurunkan perintah kepada Pu Kuala, agar Desa Cunggrang yang termasuk wilayah Bawang di bawah pemerintahan Wahuta Wungkal dijadilan Sima. Atau tanah perdikan untuk pertapaan di Pawitra dan prasada silunglung sang siddha dewata rakryan Bawang, ayah rakryan binihaji sri prameswari dyah kbi. Tugas penduduk yang daerahnya dijadikan perdikan ialah memerlihara pertapaan dan prasada, juga memperbaiki bangunan pancuran di Pawitra.
Dari isi prasasti itu, ada dua nama tempat yang perlu mendapat perhatian yaitu Cunggrang dan Pawitra. Wilayah Cunggrang tentunya tidak jauh dari tempat prasasti ditemukan (di Desa Sukci sekarang), Nama Cunggrang terdapat juga di dalam pupuh Nagarakertagama diantaranya Pupuh 58 : Warna I sah nira rin jajawa rin, padameyan ikan dinunun, Mande cungran apet kalanon numabas in wanadealnon Darmma karsyan I parcwanin acala pawitra inaran Ramya nika panunan, lurahlurah bhasa kbidun. Artinya : Tersebut dari Jajawa Baginda berangkat ke Desa Padameyan. Berhenti di Cunggrang, mencari pemandangan, masuk hutan rindang. Kearah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang. Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.
Tentang Pademeyan dapat diidentifikasi dengan Kedamaian yang terletak di sebelah utara Kapulungan. Satu kilometer dari desa Kedamaian ditemukan pula reruntuhan bangunan candi desa Keboireng. Pada pupuh 78 Negarakertagama disebut Desa Keresian seperti berikut: Sampud, Rupit dan Pilan. Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun. Di situ terbentang taman, didirikan lingga dan saluran air. Yang mulia Mahaguru – demikian sebutan beliau.
Dari segi linguis pawitra (bhs Sansekerta) berarti alat pembersih yang dapat menghilangkan kleca (cacat, dosa, noda), jadi yang mempunyai kekuatan untuk membersihkan atau mencapai sesuatu yang bersih, murni, bebas dari bahaya, keramat, suci atau kudus. Pawitra memang terkenal sebagai nama lama Gunung Penanggungan. Di Pawitra terdapat bangunan pertapaan (sang hyang dharmmacrama ing pawitra) bangunan pemandian (sang hyang tirtha panenran ing pawitra).
Tidak terlalu banyak memang yang kami dapatkan disana, informasi sebagian besar justru kami dapatkan dari media lain. Namun setidaknya, keberadaan Situs ini cukup dikenal oleh warga Gempol dan sekitarnya. Dan ini adalah pertanda baik agar warga dan pemerintah bisa bekerja sama melestarikan situs-situs bersejarah. Prasasti Cungrang ini juga diyakini sebagai cikal bakal berdirinya wilayah pasuruan. Menjelang siang, kami pun mengakhiri kunjungan di Cungrang, lantas bersiap-siap menuju Candi Belahan yang akan kami bahas pada artikel lain disini.


Posting Komentar