Putu Jedul Hangat Nikmat


Entah darimana nama ini berasal, pastinya panganan yang satu ini tidak berkaitan dengan kata Putu (Putu = cucu dalam bahasa Jawa) sebagai sebutan keluarga. Sebagai salah satu makanan khas jaman bahuela, kue putu masih tetap eksis sampai saat ini. Baik yang berupa kue putu cetak (putu ayu), maupun kue putu jedul (putu bumbung) yang akan kami ceritakan berikut ini.


Kue Putu, terbuat dari adonan tepung beras dengan isi gula merah didalamnya. Disajikan bersama taburan kelapa parut diatasnya. Biasanya dominan dengan warna hijau pandan, berpadu dengan warna putih parutan kelapa. Sederhana memang, tapi penuh dengan citarasa tersendiri.
Penjual putu jedul, selalu identik dengan suara siulan mendengung yang mengiringi kehadirannya. Tanpa harus berteriak-teriak menjajakan makanannya, semua orang sudah paham, suara dengungan unik ini pastilah pertanda keberadaan penjual kue putu. Suara unik itu berasal dari lubang-lubang uap air panas yang digunakan untuk memasak kue putu.
Adonan tepung beras dan gula jawa, dimasukkan kedalam cetakan-cetakan yang biasanya terbuat dari potongan bambu sepanjang 7-8 centi, dengan diameter seukuran ibu jari kaki. Lantas kedua ujung dipijat-pijat dipadatkan, selanjutnya ujung bambu tadi dikukus diatas lubang-lubang uap air panas. Tentunya dengan bergantian di kedua ujungnya. Lantas jika sudah matang, kue putu tadi didorong salah satu ujungnya dengan alat tertentu (dijedul) dan muncul tercetak secara sempurna dari ujung lainnya.
Yak…, kue putu hangat nikmat tersaji diatas piring beralas daun pisang. Dan baunya, hmmm… sungguh mengundang selera. Apalgi jika dinikmati sore-sore sembari memandang hujan diteras rumah. Kue putu hangat lezat adalah kuliner terbaik untuk menemani segelas teh hangat.zoer/)


Posting Komentar