Phuket, Pesona ala Film “The Beach”


(Sebuah Catatan Perjalanan Wisata di Phuket – Thailand)

Hamparan pasir pantai berwarna putih itu membentang dari ujung ke ujung, warna biru air laut bergradasi ke hijau tosca menggoda pandang mata sejauh titik cakrawala. Siang itu cukup terik memang, namun saya tak bosan-bosannya melangkahkan kaki menyusuri pasir pantai nan lembut sehalus terigu. Ombak laut yang kecil menghampar kemata kaki, seolah berebut menyapa untuk membujuk saya supaya bermain-main di air laut yang sebening kaca.



Hembusan angin pantai memberikan kesegaran tersendiri di siang yang terik, saya merebahkan tubuh diatas pasir putih yang halus. Dengan perteduhan dari payung-payung warna-warni, serta gemerisik daun kelapa yang tertiup angin. Saya memandang bule disebelah yang asyik menghabiskan suasana siang pantai dengan sajian minuman dari sebutir buah kelapa.


Tampaknya Leonardo DiCaprio tidak berbohong, pantai Phi-Phi memang serasa sorga yang tersembunyi. Keindahan alami pantai di laut Andaman telah menarik beberapa produser kenamaan untuk menjadikannya sebagai setting film kelas dunia. Phi-Phi Island dan Pantai Maya Bay mungkin tidak akan setenar sekarang, andaikata pada tahun 2000 lalu film The Beach yang dibintangi Leonardo DiCaprio tidak mengambil lokasi disini. Film bergenre Adventure Drama itulah yang nyata-nyata menjadi salah satu promosi tidak langsung akan keberadaan Phi-Phi Island yang dikisahkan sebagai “Sorga Tersembunyi” itu.






Februari awal tahun lalu saya berkesempatan membuktikan apakah memang Pulau Phi-Phi dan Maya Bay secantik dalam filmnya. Dengan memulai perjalanan dari dermaga Phuket di pagi hari, saya dan ratusan turis manca lainnya memulai petualangan diatas kapal Sea Angel untuk menuju ke “Sorga Tersembunyi”, Phi-Phi Island.

Perjalanan laut yang memakan waktu dua jam itu saya habiskan dengan bercengkrama dengan beberapa turis dari Jepang dan Australia. Rata-rata percakapan kami tidak jauh dengan agenda travelling, destinasi, social media di internet, dan tentunya… Film The Beach. Hahaha, sepertinya kami semua tak sabar ingin membuktikan keindahan tempat ini seperti dalam filmnya.




Sea Angel Luxury sepertinya terlalu besar untuk mendarat dipantai Maya Bay. Lagipula pantai ini masih belum memiliki pelabuhan sandar, mungkin sengaja demikian agar supaya kealamiannya tetap terjaga. Akhirnya semua turis yang ada di kapal, dipinjami peralatan snorkel dan pelampung untuk bisa menikmati kecantikan bawah laut Maya bay dengan warna warni ikannya. Juga beberapa turis diperbolehkan menyewa perahu Kano, untuk kayaking menuju kedaratan Maya Bay.




Pantai ini memang luar biasa, dikepung oleh bukit-bukit kapur berwarna krem, dengan puncak yang dipenuhi hijau tanaman, seolah bongkahan-bongkahan karang serba indah yang bermunculan dari dasar samudra. Air laut yang sangat bening, transparan hingga kita bisa melihat warna-warni kehijauan karang didasar lautnya. Apalagi Maya Bay terletak diantara cekungan bukit-bukit karang tadi, sehingga hampir samasekali tidak ada ombak besar yang mengganggu “kedamaian” tempat ini. Air laut demikian tenang, hanya sesekali terdengar berisik seruan para turis yang asyik snorkeling di permukaan airnya.






“Ya beginilah, Pulau Phi-Phi menjadi ramai dan dikunjungi jutaan turis sejak Leonardo DiCaprio membintangi Film The Beach disini”, tutur wanita tour leader dari Kapal Pesiar Sea Angel ini.

“Banjir wisatawan membuat kami harus membangun banyak fasilitas wisata, mulai dari dermaga, villa, dan menambah jumlah moda transportasi untuk dapat mengimbangi arus wisatawan yang bisa mencapai seribu orang perhari”, dia melanjutkan.


Saya dapat memaklumi apa yang dia sampaikan, Publik Figur macam Leonardo DiCaprio dengan film sekelas The Beach adalah modal istimewa untuk mempopulerkan kawasan Phi-Phi dan pantai-pantai Thailand ke dunia luar. Daya tarik kecantikan pantai, kondisi yang alami, serta image sebagai “Sorga Tersembunyi” adalah pantangan bagi para traveler di seluruh dunia untuk menolaknya. Apalagi Phi-Phi juga bisa dijangkau dengan mudah melalui Phuket, kawasan wisata yang menjadi andalan Thailand dalam menggaet turis. Tentulah hingga beberapa tahun kedepan, masih banyak jutaan turis yang ingin menjadi “Leonardo DiCaprio” dengan menghabiskan hari liburnya di Phi-Phi Island.


“Duuuuuuunnnnnn….”, suara terompet kapal terdengar nyaring, pertanda waktu menikmati Maya Bay sudah berakhir. Dua jam terakhir yang saya habiskan dengan snorkeling dan menikmati pantai terasa singkat di teluk ini. Semua penumpang kapal berebut berenang menaiki buritan, melepas perlengkapan snorkel dan membersihkan diri dengan air tawar dari tandon kapal. Sayup-sayup dari megaphone si Tour Leader, pukul 13.00 adalah waktu makan siang sekaligus menutup waktu tour dengan berbelanja di Central Market Phi-Phi Don. Salah satu pulau di Phi-Phi yang telah dibangun fasilitas wisata lengkap, dan menjadi persinggahan para turis selama menikmati Maya bay di pulau Phi-Phi Ley.


Pilihan menu Sayur ala Cap Jay dengan sambal cuka di pendopo beratap khas Thailand itu terasa cukup nikmat setelah menjalani tour dari jam 7 pagi. Namun pikiran saya justru diliputi ide dan tanda tanya besar mengingat eksistensi Phi-Phi sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Thailand. Walau memang menyimpan kecantikan alam yang luar biasa, saya tak mengelak kalau film The Beach juga turut mendongkrak kunjungan wisata ke pulau ini.


Hanya sekedar berkhayal, khayalan yang diliputi tanda tanya. Jikalau saja ada produser film kawakan Hollywood dengan aktor sekelas Leonardo DiCaprio mau menjadikan tempat wisata di Pasuruan sebagai settingnya. Tentulah bukan hanya Bromo saja yang mendunia, mungkin spot-spot wisata lain juga bisa se-populer Phi-Phi Island, hehehe. Saya tersenyum, melupakan sejenak ide dan khayalan yang belum jelas itu. Karena sibuk menghitung pecahan uang Baht yang akan saya gunakan untuk berbelanja di Central Market setelah ini.












Posting Komentar