Bersampan Menyusuri Tonle Sap


(Sebuah catatan perjalanan wisata di Danau Tonle Sap – Kamboja)

Saya terus melamun dan duduk termangu diatas sampan bermesin berisik siang itu. Ujung sampan yang lancip terus melaju kencang, memecah riak gelombang kecil di permukaan danau Tonle Sap, danau air tawar terbesar di Asia Tenggara dan menjadi salah satu Cagar Alam Biosfer di kota SiamReap, Kamboja. Air danau yang keruh berwarna kekuningan mengandung tanah lumpur yang subur, memang menjadi pemandangan khas dimusim kemarau saat air danau surut.


Dengan luasan lebih dari 15 ribu kilometer persegi, saya tidak dapat membayangkan betapa besar potensi danau ini. Dari keterangan Qi, anak muda pemandu wisata kelas teri keponakan pemilik sampan yang saya sewa. Danau TonleSap merupakan pemasok sumber makanan yang sangat besar bagi area SiamReap dan sekitarnya. Saat musim hujan, danau ini merupakan penghasil ikan yang sangat luarbiasa. Pula pada kemarau, surutnya air danau membuka peluang kegiatan pertanian pada area tanahnya yang tidak terendam air. Pendek kata, danau ini selalu memproduksi pangan disegala musim.

Terus terang saya datang ke danau ini bukan sebagai petani atau nelayan yang akan memanen ikan atau hasil pertanian. Saya datang sebagai seorang turis yang mencoba mengenal “potensi lain” dari keberadaan Danau TonleSap. Yakni sebuah potensi “pariwisata” sebuah danau di negara ASEAN seperti Kamboja.

Dengan membayar sebesar 20USD per orang, para turis dibawa dengan sampan kecil berkapasitas 10 – 15 menuju ke sebuah Pasar Terapung jauh dari dermaga ditepi danau. Dengan total waktu perjalanan hampir 1,5 jam. Serta singgah di Pasar Terapung hampir selama satu jam. Saya tentunya mengharap banyak hal tentang sebuah wisata sampan menarik dengan biaya senilai 20USD tersebut.

Namun tidak seistimewa yang saya bayangkan. Selama perjalanan menuju pasar terapung, saya melihat banyak floating village (desa apung) yang dibangun disepanjang tepian danau. Hampir mirip dengan floating village yang ada di Indonesia, bahkan terkesan lebih kumuh. Warga dimasing-masing rumah apung itu melakukan banyak aktivitas diatas ponton-ponton kayu, dan tetap cuek walau para bule memotret mereka dari atas sampan.

Begitu pula saat kami tiba diarea pasar terapung. Juga berupa ponton kayu berukuran 40x60 meter persegi, dengan tong-tong besar sebagai alat pengapung dibagian bawahnya. Bagi saya merupakan pemandangan biasa, malah terlihat sangat menarik dan unik bagi para turis bule yang satu rumbongan dengan saya. Mungkin, segala aktivitas diatas air ini dianggap sesuatu yang baru bagi mereka, padahal kita banyak menemui hal yang sama di sungai-sungai besar Sumatra atau Kalimantan.

Bagian bawah pasar apung bertingkat ini merupakan area pasar kerajinan tradisional. Juga saya temui restoran apung dengan menu Khmer, galeri seni, pos info wisata, juga peternakan buaya dan peternakan ikan karamba. Sementara lantai dek atasnya merupakan area terbuka untuk menara pandang.

Pengunjung digiring keatas terlebih dahulu, sekedar menikmati panorama dan juga menyempatkan diri berfoto ria. Selanjutnya diajak turun ke area peternakan ikan dan buaya, diajak berinteraksi dengan mencoba memberi makan langsung ikan dan buaya yang ada (tentunya di-charge biaya tambahan untuk makanan buayanya). Kemudian diakhiri berkunjung ke galeri seni dan pusat oleh-oleh kerajinan tradisional di tengah pasar. Konsepnya sederhana memang, namun antusiasme turis sangat luarbiasa.

Bahkan selama perjalanan balik menuju dermaga, saya masih menangkap pembicaraan para turis diatas sampan tentang betapa unik-nya kunjungan wisata mereka kali ini. Ternyata, sebuah paket wisata sederhana dengan sampan kecil yang notabene unsur safety-nya belum standar. Menyaksikan floating village disepanjang tepian danau. Serta berkunjung di Pasar Terapung (saya lebih suka menyebutnya Ponton Terapung) yang dipenuhi aneka kerajinan tradisional ditambah aktivitas memberi makan ikan atau buaya. Kesemuanya merupakan hal yang sangat menarik dan istimewa bagi mereka.

Kembali kepada lamunan saya diatas sampan, ditengah berisiknya deru mesin diesel butut sampan milik Paman Tone Yun. Saya tidak habis pikir akan nilai lebih dari kekuatan Pariwisata di danau Tonle Sap. Entah berapa ratus atau berapa ribu turis yang mengunjungi danau ini dalam sehari, puluhan sampan di satu dermaga saja tidak pernah antri lama untuk menunggu datangnya wisatawan yang akan diantar menuju Pasar Terapung. Dan untuk perjalanan senilai 20USD per kepala, saya berpikir bisa mendapatkan lebih jika berwisata dengan tema danau di Indonesia.

Tanpa melamun terlalu jauh, sempat terbersit jika di Indonesia, khususnya Pasuruan. Kiranya mencoba menerapkan sebuah gaya wisata yang kurang lebih sama, atau setidaknya bisa digarap jauh lebih serius. Wisata bersampan keliling danau, beraktivitas memberi makan ikan di karamba, diakhiri singgah di semacam Pendapa Apung ditengah danau. Lantas kemudian menikmati berbagai fasilitas di Pendapa Apung itu, bisa berupa mencicip sajian kuliner lokal, belajar membatik, menjajal memainkan musik tradisional, dan aktivitas lain yang dianggap menarik terutama untuk turis asing. Saya terus membayangkan, tentulah sampan-sampan akan selalu terisi penuh oleh para turis.

Apalagi jika pada saat-saat tertentu, berbarengan dengan even lain seperti Kasodo di Bromo misalnya. Diselanggarakan pula acara karnaval apung diatas danau, parade perahu hias, dan jenis even bernuansa tradisional lainnya. Sangat berpeluang menjadi daya tarik yang layak dimasukkan dalam agenda wisata tahunan.

Mungkin saja Danau Tonle Sap selalu ramai oleh turis, karena di Siam Reap terdapat Angkor Wat, salah satu cagar Budaya populer dunia. Didatangi jutaan turis setiap tahunnya, hingga berimbas pula kunjungan ke Danau TonleSap yang hanya berjarak puluhan kilo dari situs Angkor Temple. Tapi saya juga berpikiran sama, jika kota Siam Reap punya tujuan favorit Angkor Wat. Pasuruan juga punya Bromo sebagai magnet turis skala Internasional. Tinggal bagaimana cara kita menggiring wisatawan dari Bromo menuju Ranu Grati misalnya. Untuk sekedar menikmati wisata sampan di danau ala Tonle Sap Kamboja.

Lamunan saya sontak buyar ketika sampan sudah menepi di dermaga. Sebuah wisata kurang lebih tiga jam telah saya lalui, cukup singkat memang, namun sudah bisa membuat saya berkhayal cukup panjang. Geliat wisata di danau Tonle Sap cukup menjanjikan walau dikelola dengan keterbatasan. Andai kita punya hal yang sama, atau bahkan lebih baik dan serius pada penerapannya. Mungkin destinasi wisata di Pasuruan akan semakin beragam lagi, demikian kiranya kahayalan saya. Bagaimana dengan khayalan anda..? /zoer).


Posting Komentar