Secuil tentang Malioboro dan Keramahan ala Jogja


Stasiun Tugu cukup rame siang itu, berbaur dengan para penumpang yang terburu-buru menuruni kereta Sancaka dari Surabaya. Saya menyempatkan diri sejenak menikmati suasana stasiun tua di pusat kota Jogja ini. Kala melangkah santai keluar stasiun, pandangan mata disambut oleh hiruk pikuk suasana lalulintas dan aktivitas warganya. Jogja masih terasa seperti yang dulu, senantiasa menawarkan keramahan dan keunikan budaya yang menjadi tradisi dan bertahan hingga ratusan tahun.


Tanpa pikir panjang, tawaran tukang becak itu saya terima. Menuju jalan Malioboro, bisa saja saya tempuh dengan berjalan kaki . Toh saya hanya membawa sebiji ransel kecil dan seperangkat kamera. Namun untuk bisa lebih merasakan “berinteraksi” dengan warga lokal, tak ada salahnya menjajal moda transportasi bebas asap ini.

Bagi para petualang wisata yang suka dengan gaya tarvelling sederhana, tak ada salahnya memilih malioboro sebagai kawasan untuk mencari penginapan. Di jalan-jalan kecil sisi barat malioboro, bisa ditemukan beragam penginapan. Mulai dari hotel, losmen, guesthouse, bahkan kamar di rumah penduduk yang disewakan harian disekitar gang kecil disana. Sepeti halnya saya, cukup menyewa guesthouse sederhana seukuran kamar kost mahasiswa. Yang penting bisa istirahat dan mendapatkan pasokan listrik untuk gadget dan kamera.

Menjelang sore, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di kawasan Malioboro. Sedikit ramai memang, yang penting saya bisa menemukan banyak aktivitas disana. Sejak dulu Malioboro dikenal sebagai area wisata belanja. Disini anda tidak akan kesulitan menemukan beragam penjual oleh-oleh dan barang kerajinan khas Jogja. Batik, tas, T-shirt bernuansa jogja, juga pernak-pernik dan aksesoris unik lainnya. Jangan lewatkan pula mengunjungi Malioboro Mall, sebuah pasar Modern yang eksistensinya juga turut meramaikan kawasan malioboro sebagai area wisata belanja.
Puas berjalan-jalan sembari menyambut datangnya malam, dengan kedua tangan dipenuhi kantong-kantong belanjaan untuk oleh-oleh dirumah. Saya melanjutkan berburu kuliner khas jogja. Masih tetap dikawasan malioboro, saya banyak menemui beragam penjaja makanan disepanjang emperan jalan. Gudeg Jogja, Mangut Belut didepan pasar Beringharjo, juga berbagai masakan umum seperti Soto, Rawon, Sate, dan aneka sambal penyetan.

Namun saya justru melangkahkan kaki menuju jalan-jalan kecil disekitar malioboro. Duduk santai diatas bangku-bangku kayu para penjaja angkringan, saya memutuskan warung angkringan sebagai pilihan dinner saya malam itu.

Angkringan, kata khas yang identik dengan Pedagang Kaki Lima di area Jogja dan sekitarnya. Dengan gerobak dorong kecil, serta bangku-bangku kayu yang kerap disebut “dingklik”, serta aneka ragam penganan ringan semacam, sego kucing, sate usus, sate ampela ati, beragam gorengan. Jika anda beruntung, sebagian pedagang angkringan juga menjual kopi joss sebagai menu andalannya. Segelas kopi hitam yang disajikan dengan sebutir arang panas dicelupkan didalamnya, sangat cocok menemani malam dingin dibalut romantisme kota jogja.

Tak terasa dua bungkus sego kucing ludes dihadapan saya, walau sego kucing hanyalah sebuah nasi putih dibungkus daun pisang seukuran genggaman tangan. Pula disajikan tanpa lauk, sekedar dibumbui sambal teri dan oseng-oseng tempe. Namun citarasanya menjadi terasa lebih tatkala berpadu dengan aneka gorengan, sate usus maupun sate ampela ati. Dan keistimewaan makan malam menjadi lebih gayeng diselingi obrolan-obrolan ringan antara saya dengan bapak penjual angkringan dan pedagang lain. Sebuah keramahan khas Jogja di atas bangku angkringan, tentunya dengan segelas kopi joss di malam yang luar biasa. Selamat malam Jogja…! Malam-malam terasa lebih hidup disana… zoer/p@stic).


Posting Komentar