Pasuruan Tourism Information Center untuk memenuhi pelayanan prima sebagai information service juga bekerja sama dengan beberapa pihak diantaranya :
Sepintas dari namanya, kita mengenal alap-alap sebagai salah satu jenis burung pemangsa yang merupakan satwa langka di pulau Jawa. Namun alap-alap yang ini adalah nama julukan dari sebuah air terjun di kawasan Tretes – Prigen – Pasuruan. Belum ada yang tahu jelas asal-muasal nama air terjun tersebut hingga dijuluki alap-alap, konon kabarnya disekitar area pegunungan Arjuno – Welirang, memang menjadi habitat hidup burung yang juga dikenal sebagai Elang Jawa itu.
Akses menuju air terjun alap-alap paling mudah ditempuh melalui bumi perkemahan wanawisata Kakek Bodo. Dilanjutkan dengan perjalanan trekking menuju ke arah Selatan kurang lebih 3 kilometer. Tentunya dengan jalur trek yang bermedan cukup berat. Menembus lebatnya hutan, dan naik turun ditepian tebing batu.
Kendati demikian, sepanjang jalur menuju air terjun dipenuhi oleh pemandangan alam yang sangat menarik. Hijaunya rimba dan kesegaran udaranya, menjadi hiburan yang menarik untuk sejenak meupakan aktivitas di perkotaan. Pula tak jarang kita menemui satwa-satwa liar seperti kera, aneka burung, dan beberapa jenis serangga hutan disepanjang jalur perjalanan.
Dengan perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam, kepenatan terbayar tatkala sampai di lokasi air terjun. Sebuah pemandangan menarik tersaji diantara kumpulan batuan gunung berukuran raksasa. Air jernih dan segar mengalir disela bebatuan, menimbulkan suara gemericik yang khas berpadu dengan suara kicauan burung.
Kendati demikian, posisi air terjun yang utama masih belum terlihat. Pengunjung harus bersusah payah mendaki batu-batu gunung terjal setinggi kurang lebih 10 meter. Barulah pemandangan sesungguhnya terlihat didepan mata. Sebuah air terjun setinggi kurang lebih 40 meter, dengan tiga tingkatan yang unik. Tampak jelas menghampar diantara tebing-tebing tinggi yang mengelilingi area kolam air seluas hampir 60 meter persegi.
Berbeda dengan air terjun yang lainnya, deru suara gemuruh air terjun alap-alap terdengar lebih unik karena adanya tiga trap dari puncak ke dasar kolam. Walau dengan debit air yang tidak terlalu besar, hempasan uap airnya masih terasa menerpa wajah bersama dengan hembusan angin. Air terjun ini memang unik dan berbeda dengan yang lain.
Kendati belum dibuka untuk umum, air terjun alap-alap cukup dikenal oleh banyak petualang wisata yang menyukai tipe rekreasi sedikit ekstrim. Meski tidak terlalu sering dikunjungi, setiap akhir pekan ada saja sekelompok remaja yang mendatangi air terjun ini, sekedar menikmati alam ataupun hanya mendokumentasikan air terjunnya.
Sekali lagi, keberadaan dan eksistensi air terjun alap-alap, menjadi salah satu khasanah wisata di wilayah Pasuruan yang memang kaya akan destinasi wisata alam. Tinggal bagaimana kita bisa mengelola dengan baik, berusaha menambah nilai lebihnya, tanpa harus menimbulkan kerugian pada alam sekitarnya.
Warning ......!!!!
Karena sering terjadi longsor dan menelan korban jiwa, maka diharap pengunjung sangat berhati-hati, jika tidak dalam kondisi yang fit, dan konsentrasi yang prima serta tidak expert dalam hal aktifitas alam bebas disarankan untuk tidak mendatangi tempat ini, karena akan membahayakan diri sendiri dan orang yang bersama anda...!!!
Sebuah catatan perjalanan, tanggal 2-3 Juli 2011 berlokasi di Pulau Sempu. Mereka yang ikut serta dalam petualangan ini:.
Pulau Sempu adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat ini Sempu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Dalam pulau ini nyaris tidak ditemukan mata air payau.
Secara geografis, Pulau Sempu terletak di antara 112° 40′ 45″ - 112° 42′ 45″ bujur timur dan 8° 27′ 24″ - 8° 24′ 54″ lintang selatan. Pulau itu memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikepung Samudera Hindia di sisi selatan, Timur dan Barat.
Pulau Sempu dapat ditempuh dari Malang melalui Pantai Sendang Biru, dan penyeberangan menggunakan perahu nelayan, serta mendapat perijinan.
2 Juli 2011, pagi itu cuaca sangat cerah, Ita, Kiki, Fitroh, Nazila, dan Ima berangkat menuju Sendang Biru canda tawa mengiringi keberangkatan kami, jalan yang jarang dilalui oleh lalu-lintas kendaraan dan berliku menemani kendaraan yang kami naiki, ada yang terlelap dalam mimpi, melamun, dan nge-gosip merupakan bagian dari perjalanan ini.
Perjalanan masih setengah jalan, matahari mulai menunjukkan kegagahannya, satu per satu mulai menampakkan wajah kecapekan dan membosankan. Beberapa saat kemudian salah satu pendamping kami memberikan tebakan untuk memecah kebosanan ini dan satu per satupun mulai terlihat wajah-wajah yang haus akan canda tawa, tanpa terasa perjalananpun telah sampai di desa sendang biru.
Sendang biru adalah sebuah desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan dan beragama mayoritas memeluk agama islam. Tiba di pos perijinan hari mulai menjelang sore, para pendampingpun dengan sigap mengurus semua perijinan dan persewaan perahu bermotor untuk mengantarkan kami menuju pulau Sempu.
Hari menjelang gelap, perjalanan kami lanjutkan menuju pantai kipas sebelum ke Segara Anak, sebelum berangkat, marilah kita menundukkan kepala sejenak, agar kita diberi keselamat sampai tujuan dan sampai pulang, berdoa mulai, itulah kalimat yang diucapkan oleh salah seorang pendamping kami. Perjalanan kami lanjutkan, peralatan penerangan kami siapkan, dan perjalanan dilanjutkan.
Setibanya dipantai Kipas hari sudah gelap peralatan berkemahpun kami keluarkan dari ransel. Ikan tuna segar, beras, kopi, gula, dan lain-lain siap menemani makan malam, kayu bakar telah disiapkan, tenda telah didiriakan, dan perapian mulai dinyalakan, kini tiba saatnya acara bakar ikan.
Malam bertabur dengan perhiasannya, angin bertiup membelai kulit, nyala api unggun dikelilingi tim perjalanan, dan canda tawapun mulai terdengar sayup-sayup lengkap sudah suasana malam ini. malam semakin larut, udara sudah terasa tidak bersabat lagi, tiba saatnya kami merebahkan tubuh ini yang seharian beraktivitas cukup padat.
Langit mulai memerah, segar sekali udara pagi ini, itu sangat jelas sekali karena kita sekarang ini berada sangat jauh dari keramaian kotadan polusinya.
Deburan ombak laut selatan menyapa ternyata diantara yang lain, saya yang paling terakhir bangunnya hehehe.., maklum badan sangat letih setelah beraktifitas seharian kemaren. Ternyata sangat indah sekali pantai ini, pasirnya yang putih, air lautnya yang jernih, dan sedikit sekali sampah yang terlihat disini, dalam hati berdoa dan berkata,” Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku untuk melihat kebesaran-Mu, semoga ini bisa terawat dengan baik dan tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil...amin”.
Deburan ombak laut selatan menyapa ternyata diantara yang lain, saya yang paling terakhir bangunnya hehehe.., maklum badan sangat letih setelah beraktifitas seharian kemaren. Ternyata sangat indah sekali pantai ini, pasirnya yang putih, air lautnya yang jernih, dan sedikit sekali sampah yang terlihat disini, dalam hati berdoa dan berkata,” Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku untuk melihat kebesaran-Mu, semoga ini bisa terawat dengan baik dan tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil...amin”.
Setelah sarapan dan mengepak peralatan camping, membersihkan sampah an-organik diareal tempat bermalam kami untuk menjaga agar pantai dan hutan ini bisa terawat dengan baik sampai anak-cucu, memang ini tidak sebanding dengan sampah yang ada, akan tetapi setidaknya ini mengurangi.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Segara Anak, jalan berliku dan terjal kembali didepan mata akan tetapi bukankah ada pepatah bahwa bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian? Ternyata pepatah itu benar adanya, setibanya di lokasi, mata kami kembali disuguhkan sebuah danau air asin yang sangat indah, menurut mas Surya (salah seorang pendamping), danau ini terbentuk karena ada celah ditengah danau yang langsung menuju laut lepas, biota laut seperti ikan dan yang lain keluar- masuk lewat celah tersebut, jadi banyak ikan-ikan cantik didalamnya, dikarenakan celahnya sempit maka danau tersebut aman untuk dibuat berenang. O ya saya mau cerita sedikit tentang mas Surya, dari hasil intervie saya dengan beliau, beliau adalah seorang penggiat kegiatan alam bebas, beliau mempunyai pengalaman yang cukup mengesankan menurut saya, dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia pernah didatanginya walaupun hanya perwakilan katanya..hahahaha. Beliau adalah penanggung jawab ekowisata di Pasuruan Tourism Center.
Detik demi detik berganti tanpa terasa hari sudah siang dan kita pun beranjak menuju teluk semut dimana tempat bersandarnya perahu bermotor kami. Satu jam kemudian kami telah ditunggu oleh si tukang pengemudi perahu yang sebelumnya mengantarkan kami, setibanya dipos perijinan dan berpamitan, kamipun melanjutkan perjalanan kembali menuju Bangil, kota tercinta .
Wajah letih mulai terlihat kembali, satu per satu telah terbawa ke alam bawah sadar masing-masing tak terkecuali saya. Sungguh liburan kali ini sangat berkesan sekali bagiku, hal-hal yang belum pernah ditemukan selama ini serasa terbayar sudah dan perjalanan berikutnyapun sudah menunggu.
Langganan:
Entri (Atom)









Poskan Komentar