NIKMATNYA SEGO SAMBELAN

-->
“sego sambelan mas…!”, tanya ibu penjual di sudut gang itu.

“iya buk, sego sambelan komplet”, jawab lelaki setengah baya yang tampak asyik menikmati rokoknya, disela mengantri di warung kecil yang berjubel dipadati para pembeli.

Sego Sambelan
Bagi sebagian warga kota bangil,tentu tidak asing lagi dengan menu Sego Sambelan. Anda bisa menemukan banyak warung yang menyediakan sego sambelan disini, terutama di kampung wilayah Selatan alun-alun Bangil, seperti kampung Mendalan dan Pandean. Walau ragam sajiannya berbeda tiap tempat, namun Sego Sambelan kota Bangil demikian khas dan kerap menjadi buruan para pecinta kuliner lokal.

Sego Sambelan di daerah Mendalan, Kelurahan Kolursari – Bangil misalnya. Konon menu kuliner ini telah eksis semenjak puluhan tahun silam. Dari yang dulunya ditemui banyak penjual sego sambelan, hingga saat ini tersisa dua penjual yang masih bertahan. Tentunya dengan menu dan sajian yang masih tetap seperti dulu.

Dalam seporsi sego sambelan, anda akan menemukan banyak ragam lauk dan sayuran. Mulai dari lauk tempe dimasak orem-orem (demikian warga sini menyebutnya), tempe mendol, ikan asin, hingga tahu bali. Sayurnya berupa olahan daun singkong diurap bersama parutan kelapa, kadangkala dicampur pula dengan kecambah. Dan yang paling istimewa tentu sambalnya. Selain sambal merah diuleg seperti biasanya. Ada sambal racik dengan rajangan kacang panjang yang mantab, pula diberi sedikit perasa dari kulit jeruk. Benar-benar istimewa, bahkan belum mencoba mencicip pun tampilan sudah cukup meyakinkan, inilah sego sambelan khas bangil dengan sambel sebenar-benarnya.



Disajikan dengan nasi yang hangat-hangat panas, anda bakal terlena dengan kelembutan tekstur tempe orem-orem. Tempe dimasak dengan bumbu santan, dengan rasa paduan manis, asin, gurih, tanpa meninggalkan “bau’ khas tempe. Belum lagi mencoba menikmati urap-urap daun singkong yang rasanya demikian sempurna kala ditemani renyahnya ikan asin. Sebuah pasangan yang serasi untuk menemani kehangatan nasi. Tempe mendol (tempe menjeng) juga tak kalah nikmat, sebelum digoreng tentunya tempe ini dilumatkan bersama dengan bumbu-bumbu, lantas dicetak bulat-bulat lonjong seukuran kelereng.

Namun sesuai dengan namanya, kekuatan sego sambelan ya ada di sambelnya. Rajangan kacang panjang yang dicampur sambal itu benar-benar membuat saya tak henti mengunyah, apalagi sedikit-demi sedikit terasa aroma potongan kulit jeruk yang memberi citarasa sedikit berbeda. Benar-benar membikin ketagihan pastinya.

Singkat kata, memang keunikan dan kelezatan menu Sego Sambelan kota Bangil merupakan salah satu warisan kuliner puluhan tahun lalu. Kendati nyaris tergilas jaman, dan saat ini hanya dijual di sudut-sudut gang yang sempit dan sulit dijangkau. Namun orisinalitas dan kekuatan rasanya masih mampu membius para penggemarnya. Selamat mencoba kenikmatan Sego sambelan…! Dan jangan lupa, Budayakan Antri…!zoer/p@stic)


Poskan Komentar

Masjid Agung Bangil


Masjid Agung Bangil berdiri dengan megah persis di sebelah barat Alun-alun Bangil. Konon, bangunan Masjid Agung Bangil ini,  masjid tiban. Dalam arti bangunan yang terbuat dari kayu ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah kota Bangil. Ada juga salah seorang Kyai bahwa masjid tidak serta merta muncul begitu saja tapi sengaja dibangun oleh seorang yang alim dengan dibantu para pengikutnya dan tidak ada masyarakat sekitar yang menyadari proses pembangunan tersebut.

Ruangan utama masjid mempunyai arsitektur SOKO WOLU, yaitu tiang penyangga utama yang terdiri dari empat kayu jati, berukuran keliling 120 cm dan tinggi 15 m. Dipasak dengan 8 balok kayu jati berukuran 120 cm dan panjang 7 m, di atasnya yang saling memaku. Saat ini ruangan utama masjid telah direnovasi tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Ruang utama, dengan kontruksi kayu yang telah rapuh, kini sudah diperbaiki dan tampak lebih kokoh dan indah.

Inilah salah satu masjid terantik yang ada di Indonesia. Menurut data pada artifak mihrob tertera tahun 1287 H. Tidak heran jika masjid ini, banyak dikunjungi orang, dari daerah lain, umumnya mereka para peziarah. baik yang berziarah ke makam Wali Songo, maupun ke makam yang lain biasanya mampir di masjid ini,

Di area masjid ini juga  terdapat makam dari Raden Soenjoto. Makam Raden Soenjoto, panggilan karib RT Soenjotoningrat ini berada di sebelah barat Masjid Agung Bangil. Sepintas, makam Bupati ini tampak tak terawat. Di dalamnya banyak daun berserakan.

Nama RT Soenjotoningrat juga terlihat buram. Bahkan, pusara makamnya mengalami kerusakan. "Memang dari dulu, tidak ada yang memperhatikan pusara Bupati Bangil ini. Padahal katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang memperhatikan jasa pahlawan," ujar Choiron Dimyati, salah satu takmir masjid Agung Bangil ini.

Makam Bupati Bangil ini dikelilingi sebuah tembok melingkar. Luasnya sekitar 10 x 20 meter persegi. Di makam itu, Kanjeng Soenjoto, panggilan karib lainnya selama jadi Bupati Bangiil disandingkan dengan makam ayah dan ibunya. Di dalam makam itu, juga tampak beberapa pusara lainnya.

Sehari-harinya, makam keluarga besar Kanjeng Soenjoto ini dirawat Mariyati. Perempuan berusia 63 tahun ini enggan disebut sebagai juru kunci. "Kulo namung ngerumat makam mawon, nak. Kulo sanes juru kunci (Saya hanya merawat makam saja. Saya bukan juru kunci, Red)," ujar Mariyati kemarin.

Hampir setiap hari, Mariyati membersihkan makam. Ia rela mengabdi, meski sudah berpuluh-puluh tahun memegang kunci makam. "Nek wonten tiang nyele kunci kangge ziarah, nggeh kawulo sukaaken (Kalau ada orang yang pinjam kunci untuk ziarah, ya saya pinjamkan, Red)," ujarnya.

Penziarah yang datang memang tidak banyak. Kalau pun ada, itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Yakni, setiap Kamis sore atau sehabis hari raya Idul Fitri. Biasanya, putune kanjeng Soenjoto ini setahun sepindah ngeriki (Biasanya, kalau cucu Kanjeng Soenjoto setahun sekali ke sini, Red)," terang wanita yang rumahnya dekat dengan makam ini.

(Data diambil dari berbagai sumber)
___________________________________________________________________________
Lokasi Masjid Agung Bangil
Koordinat : 7°35'51"S   112°47'1"E


1 comment

Poskan Komentar

komplek Makam Segoropuro

Segoropuro adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia, memiliki sebuah obyek religi yang sangat kental dikenal ketika nama segoropuro disebut.
Syarif Arif Abdurrahim, atau lebih dikenal dengan "Mbah Segoropuro" beliau adalah putra dari Mbah Ratu ibu yang terletak di Kecamatan Bangil, makamnya terletak di Desa Segoropuro Kecamatan Rejoso ± 2 km ke arah utara sekitar 10 kilometer arah timur dari pusat kota Pasuruan melalui Jalur transportasi Pantura (Surabaya - Banyuwangi.) Di tempat ini dilengkapi dengan tempat Peristirahatan dan Masjid.
Peringatan haul setiap 10 Jumadil Akhir, atau pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir puasa Ramadhan jumlah pengunjung di kompleks makam Segoropuro melonjak saat matahari mulai tenggelam. Tak hanya datang dari dalam kota, namun juga dari luar kota seperti Jember, Banyuwangi, Malang, Sidoarjo, Surabaya, Jombang, Madura, Solo, dan Cirebon bahkan sampai dari luar negeri seperti malaysia.
Selain ingin terlibat dalam panjat do’a bersama, kebanyakan sebagian dari pengunjung datang untuk memohon dan berburu berkah. Tentu memohon do’a pada Sang Ilahi, dengan iringan berkah para ulama yang dimakamkan di Segoropuro.
Di sana terdapat tiga makam ulama besar. Yaitu Sayid Arif Abdurrahim, Sayid Abdurrahman, dan Mbah Kendil Wesi. Ketiga tokoh inilah dulu kala menjadi penggerak syiar Islam di pesisir Jawa, seperti Madura dan Pasuruan. Bahkan selain mereka berdo’a. Adapula yang berniat membaca dan menghafalkan garis silsilah Sayid Arif dengan Nabi Muhammad SAW.
Dalam tulisan arab yang terpasang di dinding tirai putih, menunujukkan Sayid Arif Abdurrahim adalah berada di garis keturunan ke-26 dari Nabi Muhammad SAW.

Potensi obyek lainnya yang terdapat di sekitar makam ini adalah, di sudut kompleks makam dapat dijumpai sebuah goa, yang konon dipercayai sebagai alternatif tempat tirakat bagi yang ingin melakukannya. Bahkan menurut cerita masyarakat setempat, pernah ada yang bertirakat di goa itu setelah pulang ke kampung halamannya menjadi orang sukses.
makam ini dijaga oleh seorang juru kunci yang bernama Abdul Karim pria 55 tahun ini menjaga makam segoro puro sudah beberapa waktu lamanya.

____________________________________________________________________
data diambil dari berbagai sumber


Poskan Komentar

Komplek Makam Mbah Ratu Ibu

Makam Syrifah Khdijah / Mbah Ratu Ibu

Mbah Ratu Ibu juga disebut Mbah Ratu Ayu memiliki nama asli Syarifah Khadijah putri dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), cerita dimakamkannya Mbah Ratu Ayu Ibu di Bangil ini bermula. Ketika suatu saat putri Sunan Gunung Jati ini, mendadak dirundung rasa kangen yang begitu dalam kepada kedua putranya yang tengah belajar agama di pondok pesantren milik Mbah Soleh Semendi di daerah Winongan, yang tak lain adalah masih familinya.

Akhirnya berangkatlah beliau mengunjungi kedua putranya, Sayid Arif Segoropuro dan Sayid Sulaiman Mojoagung yang belajar di pesantren di Winongan. Namun sepulang menjenguk kedua putranya tersebut, Mbah Ratu Ibu mendadak sakit saat di daerah Bangil dan akhirnya meninggal. Setelah meninggal Syarifah Khadijah dimakamkan di pemakaman di daerah yang sekarang disebut dengan Wetan Alun karena memang letaknya di Wetan (Bahasa Jawa yang artinya Timur) dari alun-alun Bangil.


Komplek ini terletak persis dibelakang rest area swadesi, diperikirakan berumur sudah ratusan tahun, sebelumnya komplek ini tak ada bedanya dengan komplek-komplek makam yang lain, hanya komplek makam biasa, suatu saat ada seorang kyai dari daerah Lawang Malang bernama Kyai Ba'bud mengunjungi komplek ini dan menemukan sebuah makam yaitu makam Syarifah Khadijah, Kyai Ba'bud mempercayai kalau makam ini bukan makam dari orang biasa atau lebih tepatnya seorang wali menurutnya, maka kemudian dibangun sebuah kijing (bangunan makam) dan dalam perkembangannya dibangunkan sebuah gedung untuk menandai komplek tersebut, dalam komplek ini terdapat beberapa makam diantaranya makam Syarifah Khadijah (Mbah Ratu Ayu/Ratu Ibu), Abdullah Bin Abdur Rahman, dan pembantunya, serta makam KH.Qosyim Muzammil, juga terdapat satu makam lagi yang terpisah dari bangunan ini, terletak di sebelah timurnya yaitu makam Habib Qosim Basyaiban.
Makam Habib Qosim

Makam Habib Qosim Basyaiban ini terletak dalam gedung sendiri dengan gaya kuno, terlihat dari bangunan gedung dan kijing yang jelas sekali kalau makam ini sudah sangat tua, memang belum diketahui persis kapan bangunan ini dibangun, tapi menurut H.NUR salah satu warga yang memiliki stan yang menjual busana muslim dan souvenir khas bangil persis di depan makam Mbah Ratu Ibu, makam ini juga sudah berumur ratuan tahun.

Komplek ini banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah dan berbagai kalangan, apalagi ketika digelar acara Haul peringatan wafatnya Mbah Ratu Ibu, ratusan peziarah dari seluruh pulau jawa dan dari berbagai daerah di seluruh nusantara berkumpul disini untuk memperingati Haulnya.


Souvenir dan Busana Muslim
komplek pemakaman ini didukung dengan adaanya Masjid, Rest Area dengan rumah makan yang menyajikan makanan khas Bangil seperti Gule Sate serta lahan parkir yang cukup luas, di tambah lagi UKM-UKM khas seperti busana bordir, souvenir juga terdapat dalam satu komplek. Akses untuk menuju komplek ini juga sangat mudah karena terdapat Halte tempat transit travel, bus antar kota dan antar propinsi yang menuju Surabaya, Probolinggo, Banyuwangi, Bali dan Lombok, yang hampir semua berhenti di tempat ini yang dikenal dengan swadesi.



Keberadaan Mbah Ratu Ibu tersebut juga dikenal sebagai sosok waliyullah perempuan yang cukup terkenal dengan karomahnya. Dikisahkan dari warga sekitar areal makam, Syarifah khodijah ini, sejatinya adalah merupakan salah satu putri dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. "Pernah ada anak usia 12 tahun yang sejak lahir tidak bisa bicara. Tapi tiba-tiba bisa bicara setelah menghadiri haul Mbah Ratu Ibu ini, dan ini adalah salah satu karomah wali perempuan disini mas. Karena wali perempuan jarang, makanya karomahnya begitu hebat," ujar salah satu warga di sekitar makam. zq/p@stic)
________________________________________________________________________________


1 comment

Poskan Komentar

Masjid Cheng Hoo Pandaan


Nama Cheng Hoo diambil dari laksamana terkenal asal Tiongkok yang melakukan ekspedisi bersejarah pada 1404-1443. Cheng Hoo alias Zheng He alias Sam Pok Kong waktu itu memimpin sedikitnya 300 kapal dengan 27 ribu pelaut ke Asia Selatan, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.

Di sela-sela ekspedisi, Muhammad Cheng Hoo juga menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Cheng Hoo sangat dihormati, bukan saja oleh muslim Tionghoa, tapi warga Tionghoa umumnya.
Nama Cheng Hoo diabadikan sebagai Mesjid oleh Komunitas Muslim Cina untuk mengenang Laksamana Cheng Hoo yang terlahir  sudah menjadi seorang muslim. Kedatangan Laksamana Cheng Hoo dikerajaan Majapahit merupakan fakta bahwa Islam bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat Cina. Bahkan sebelum Islam masuk  kedaerah Jawa, Islam sudah lebih dulu dikenal di Cina

Cheng Hoo yang pada waktu kecil bernama Ma Ho lahir pada tahun 1371 dibagian barat daya Cina, propinsi Yunan ( sebelah utara Laos ). Ayah Ma Ho adalah seorang haji ( karena sudah menunaikan ibadah haji ke Mekkah ). Setiap Muslim diberi tambahan kata Ma didepan namanya yang diambil dari kata  Mohammed.

Disaat Ma Ho berusia 10 tahun ( thn 1381 ), dia bersama anak - anak kecil yang lain ditangkap oleh tentara Cina yang menyerbu Yunan untuk mengambil alih wilayah. Ma Ho kecil bersama anak - anak yang lain kemudian dididik untuk menjadi tentara dan diajari stategi berperang.

Ma Ho telah membutikan kemampuannya dengan melakukan beberapa pelayaran untuk memperluas wilayah kekuasaan.

Mesjid Cheng Hoo

Masjid Cheng Hoo Pandaan mulai dibangun tahun 2003 dengan luas bangunan 50 x 50m, dua lantai. Masjid Cheng Hoo Pandaan menurut rencana akan ditambahkan beberapa fasilitas berbagai kios menjual aneka souvenir dan makanan, masjid Cheng Hoo Diresmikan pada tanggal 27 Juni 2008 oleh Bupati Pasuruan yang pada saat itu dijabat oleh H.Jusbakir Aldjufri, SH. MM. (Alm)


Saat istirahat di Masjid Cheng Hoo Pandaan banyak penjaja makanan seperti jamu gendong, jagung rebus, dan lain sebagainya. Jamaah yang datang dari luar kota tak jarang duduk sambil menikmati hawa dingin Masjid Cheng Hoo Pandaan.

Lantai dasar Masjid Cheng Hoo Pandaan digunakan untuk ruang pertemuan yang disewakan, namun bagi jamaah yang ingin tidur sejenak dipersilahkan di ruang tersebut. Lantai dua khusus sholat dan tidak boleh digunakan untuk tiduran.

Keunikan mesjid Cheng Hoo terlihat dari gaya Arsitektur-nya yang cukup artistik. Dibangun dengan memadukan unsur - unsur budaya Islam, budaya Jawa dan Cina menjadikan mesjid Cheng Hoo tampil menjadi arsitektur yang megah dan menyatu. Memang mesjid ini banyak didominasi oleh unsur - unsur budaya cina. Hal ini dapat terlihat dari sentuhan warna - warna terang seperti hijau, kuning dan merah. Salah satu persamaan dari unsur cina dan jawa adalah pada Atap Joglo-nya dan juga pada ornamen - ornamen yang terlihat pada tepian atap.

Dibagian Interior Mesjid juga banyak terdapat motif dan ornamen yang merupakan perpaduan dari tiga unsur Islam, Jawa dan Cina. Perpaduan tersebut diaplikasikan pada Langit - Langit yang menjulang tinggi mengikuti bentuk struktur atap. Bentuk lengkung pada area mimbar dan warna - warna terang pada hiasan dilangit - langit. Hanya saja pemberian warna untuk interior tidak seramai dan seberani pada bagian luar Mesjid mungkin dimaksudkan agar tidak mengganggu kekhusukan orang yang sedang beribadah.

Kehadiran Mesjid Cheng Hoo di Pandaan menambah maraknya suasana, Karena letaknya yang sangat starategis juga tidak jauh dari terminal Pandaan. Para jamaah adalah kebanyakan orang - orang yang sedang melakukan perjalanan dari Surabaya maupun Malang maupun kota-kota lain yang melalui Pandaan. Mesjid Cheng Hoo Pandaan dilengkapi oleh fasilitas Perpustakaan dan aula sebagai tempat berlangsungnya even-even keagamaan seperti akad nikah, belajar mengaji, dan sebagainya.

Disamping Komplek Masjid juga terdapat rest area dan pasar tradisional yang menjual khusus buah-buahan dan hasil bumi, serta pernak-pernik, dan juga terdapat warung-warung tempat makan yang ekonomis, karena itu tempat ini lebih dikenal dengan sebutan "PASAR BUAH", tempat ini banyak disinggahi orang-orang dari daerah lain hanya sekedar mencari oleh-oleh untuk kerabat dan sanak saudara saat pulang dari berwisata baik yang dari malang, surabaya, ataupun orang-orang yang pulang dari tretes, tak sedikit juga wisatawan asing yang singgah di tempat ini hanya sekedar ingin melihat aktifitas dari warga pribumi.

Selain itu, banyak masyarakat yang mendatangi mesjid ini dipagi hari sambil berjalan - jalan mengitari bangunan ataupun beraktifitas olahraga dipelataran parkir yang cukup luas.zq/p@stic)


3 comments

Poskan Komentar