Eksotisnya Gunung Bromo

Gunung Bromo dapat ditempuh kurang lebih 3 jam dari Surabaya, melalui jalur Pasuruan dengan rute Pandaan-Nongkojajar-Tosari dan Wonokitri.

Perjalanan melalui rute ini kita akan melalui banyak obyek wisata yang cukup menarik diantaranya kawasan Taman Dayu (Pandaan), Taman Safari Indonesia II (Prigen), Kebun Raya Purwodadi, Agro Wisata, dan wisata komoditas unggulan Susu dan Kebun Kopi (Nongko Jajar), dan yang paling menarik adalah View Point II yang terdapat di Penanjakan Wonokitri Kabupaten Pasuruan.

View Poin II Penanjakan menawarkan pemandangan eksotis Gunung Bromo, hamparan Caldera (Lautan Pasir), dan Gunung Batok menjadi menu sarapan saat matahari terbit, yang sering kali dihiasi dengan kabut di bawah jurang Penanjakan.

View Poin II Penanjakan adalah sebuah titik dimana terdapat sebuah bangunan pendapa dan tribun untuk tempat duduk bagi wisatawan yang menantikan matahari terbit, tempat ini banyak dikunjungi banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia, salah satunya Francisca seorang wisatawan dari Belanda yang datang bersama keluarganya yang sempat berkenalan dengan kami. 

Gunung Bromo sendiri (dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuno: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur Sebagai sebuah obyek wisata, bahkan manjadi salah satu ikon wisata Indonesia. Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif yang terdapat pada rangkaian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa Lautan Pasir seluas 5.250 hektar.

Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter dpl itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.



Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun.


Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru antara lain jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus).

Terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia di taman nasional ini


Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus).

Di Lautan Pasir ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan dan mengancam kehidupan manusia di sekitarnya (± 3.500 jiwa).

Suku Tengger
Suku Tengger yang berada di sekitar taman nasional merupakan suku asli yang beragama Hindu. Menurut legenda, asal-usul suku tersebut dari Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri. Uniknya, melihat penduduk di sekitar (Su-ku Tengger) tampak tidak ada rasa ketakutan walaupun menge-tahui Gunung Bromo itu berbahaya.

Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.


Pasca Letusan.
Bromo yang sempat meletus pada November 2010 silam tak menyurutkan keinginan wisatawan untuk tetap menikmati keindahan Gunung Bromo, baik yang wisatawan Domestik maupun Mancanegara, David Corner (18 Tahun) salah satunya pemuda asal New Zeland ini tak mau melewatkan momen indahnya pasca letusan ketika melintas Pulau Jawa saat dia melakukan perjalanan backpacker-nya mengelilingi Asia Tenggara.

Memang sementara ini kondisi sampai saat ini belum sepenuhnya stabil, tapi kawasan Gunung Bromo masih dibuka untuk wisata sampai radius kurang lebih 5Km dari pusat letusan (Sekitar Lautan Pasir) dan sementara dilarang untuk mendekati puncak Gunung Bromo, sebab radius 5Km sudah tidak aman bagi wisatawan.

Erupsi Gunung Bromo
Dalam keadaan aktif normal maupun sedang meletus, Bromo dapat mengeluarkan gas beracun yang berbahaya bagi kehidupan. Secara umum bahan gas vulkanik Bromo dapat berupa mofet, solfatara, atau fumarol. Mofet adalah hembusan gas vulkanik mengandung COo dan CO2 yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa sehingga berakibat fatal (kematian) bagi orang dan binatang yang menghirupnya. Konsentrasi gas beracun ini meningkat di dalam kawah pada saat meletus, atau pada saat cuaca mendung, berkabut, hujan, dan tidak ada angin.

Jika gas beracun mulai keluar, penduduk dan wisatawan dilarang turun ke kawasan kawah. Pada musim kemarau, gas beracun mengendap di permukaan tanah dan dikenal sebagai “bun upas” (embun berbisa) oleh penduduk setempat. Embun berbisa ini dapat merusak serta mematikan tanaman, seperti sayur mayur dan kentang. Untuk menghindari embun berbisa , para wisatawan dilarang berkemah di lautan pasir. Solfatara adalah hembusan gas vulkanik yang banyak mengandung unsur belerang. Gas ini mudah dikenali karena berbau seperti telur busuk. Biasanya gas belerang membentuk endapan belerang berwarna kuning dan berasa asam di lubang asap. Dalam konsentrasi tinggi, solfatara berbahaya bagi kehidupan. Fumarol adalah hembusan gas vulkanik yang banyak mengandung uap air (H2O). Fumarol ini tidak beracun tetapi sebaiknya tetap diwaspadai.zq/p@stic)


data diambil dari berbagai sumber
________________________________________________________________________

Lokasi
Gunung Bromo Jawa Timur, Indonesia
Ketinggian   : 2.329 m (7.641 ft)
Koordinat    : 7°56′30″S 112°57′00″ 
EKoordinat  : 7°56′30″S 112°57′00″E [1]
Geologi
Jenis  : Stratovolcano (aktif)
Letusan terakhir : 2010




Poskan Komentar

Air Terjun Kakek Bodo

Air terjun Kakek Bodo berada pada ketinggian 850 mdpl, di area wisata Tretes-prigen. Air terjun Kakek Bodo ini bisa ditempuh dari Surabaya dengan jarak kurang lebih 51 km ke selatan (arah Malang) Atau dari Malang dengan jarak tempuh kurang lebih sekitar 70km arah sebaliknya. dari bus jurusan Surabaya Malang, kita bisa turun di terminal Pandaan dan ganti angkutan menuju Tretes. Kendaraan yang menuju kawasan wisata Tretes ini bertarif Rp.6.000,- per orang. Turun persis di depan gerbang masuk kawasan wana wisata kakek bodo.

di Dekat terminal Pandaan juga terdapat obyek menarik yang bisa kita kunjungi seperti Masjid Muhammad Cheng hoo dan Pasar buah untuk sekedar membeli oleh-oleh berupa hasil pertanian organik untuk keluarga di rumah. selama perjalanan juga akan dilewati beberapa obyek lain seperti Candi Jawi dan kawasan air terjun yang lain yaitu air terjun Putuk Truno juga Taman Chandra Wilwatikta salah satu tempat konservasi dan BKSDA yang diresmikan mantan Presiden RI ke -2 H.M Soeharto (Alm) pada 31 Agustus 1971 silam.

Bagi yang suka berpetualang, wana wisata Kakek Bodo akan memberi beragam pesona alam yang cukup menarik. Bahkan jalur yang ditempuh dengan jejak kaki pun bervariasi, yang dapat dipilih sebagai kegiatan lintas hutan. Banyak hal menarik yang dapat dinikmati di sepanjang jalur menuju Air terjun.

Dikawasan ini selain Air terjun ada beberapa obyek yang bisa di singgahi diantranya kolam renang, area camp ground serta tempat ziarah (Makam Kakek Bodo).

Menurut cerita dari salah satu orang tua dikawasan ini sebut saja Pak Latief yang umurnya sudah lebih dari setengah abad ini, yang telah bertahun-tahun berprofesi sebagai tukang parkir di tempat ini mengatakan "Di beri nama Kakek Bodo karena terdapat makam seorang kakek yang di sebut dengan kakek yang bodoh (bodo). Makam Kakek Bodo terletak di tengah areal Wana Wisata Air Terjun Kakek Bodo."

tentang cerita kakek bodo ini singkatnya banyak yang mempercayai kalau beliau adalah seorang kakek yang menjadi pramuwisma di sebuah keluarga belanda, beliau juga dikenal jujur dan taat beribadah, juga suka membantu orang lain. menurut cerita beliau meninggalkan kemewahan dan gemerlap duniawi yang diberikan keluarga belanda tersebut untuk bertapa, karena itulah beliau disebut Kakek Bodo.

Namun dari pertapaanya itu beliau mendapatkan kelebihan, kesaktian yang digunakannya untuk membantu masyarakat disekitarnya, beliau meninggal di pertapaanya dan dimakamkan tak jauh dari lokasi air terjun. karena itu ir terjun ini disebut Air Terjun Kakek Bodo.
zq/p@stic)
_______________________________________________________________ 
data diambil dari berbagai sumber

koordinat : 7°41'51"S   112°37'41"E
Lokasi     : Air Terjun Kakek Bodo Tretes - Prigen - Kabupaten Pasuruan - Jawa Timur
Tiket Masuk : Rp. 4.100,- (Empat ribu seratus Rupiah termasuk asuransi)
 


Poskan Komentar

Sien Orchids

Sien Orchids adalah sebuah perkebunaan anggrek di Tretes tepatnya di Jalan Raya Ngemplak No 6 Prigen berdekatan dengan kawasan villa dan Finna Golf. Sebagai salah satu obyek wisata di Jawa Timur Sien Orchids yang mengandalkan keindahan floranya. selain taman anggrek yang menyimpan berbagai jenis bunga anggrek dan tamanan Hias, disana para wisatawan dapat melihat indahnya bunga anggrek dan sekaligus dapat membelinya sebagai sovenir. Melihat letaknya yang strategis, udaranya yang sejuk serta jauh dari polusi udara maka tidak heran jika Sien Orchids tidak hanya dikunjungi oleh turis lokal, tetapi turis mancanegarapun ikut menikmati keindahan dari perkebunan tersebut. Oleh karena itu tidak perlu diragukan lagi bahwa begitu besarnya potensi Sien Orchids untuk terus dikembangkan sebagai salah satu obyek wisata di Jawa Timur.

Melalui observasi dan penilitian yang bersifat diskriptif maka dapat diuraikan bahwa potensi Sien Orchids sebagai obyek wisata flora yang sangat besar, namun untuk lebih meningkatkan daya tarik Sien Orchids kepada masyarakat luas diantaranya dalam bidang promosi dan segmentasi pasar, fasilitas serta dalam bidang 7 K (Keamanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan dan Keramahtamahan).

Sien Orchid memiliki dengan lahan sekitar 2 ha memiliki kurang lebih 10.000 species anggrek yang sebagian besar berasal dari luar negeri, sebagian koleksinya sering di ikut sertakan dalam pameran Nursery bertaraf internasional dan hampir semua spesies yang ada merupakan hasil percobaan dan penelitian pengembang biakan sendiri, yang memakan waktu 10 tahun untuk tiap spesiesnya.

Petani anggrek “Sien Orchid”, Moling Simardjo yang merupakan pemilik lahan ini punya banyak kisah unik. Salah satunya pada tahun 1995, Moling menyilang dua anggrek dendrobium di kebunnnya. Yang pertama antara Dendrobium Joan Kashima dengan Dendrobium Lily Yang. Sedang yang kedua Dendrobium Joan Kashima dengan Dendrobium Madame Uraiwan.

Hasil silangan yang pertama didaftarkan ke London dengan nama baru Dendrobium Bali Moon. Bunganya cantik, ada warna ungu pada lidah sepal. Bali Moon diabadikan sebagai rasa cintanya terhadap keindahan Pulau Dewata Bali.

Selagi mencari-cari nama yang pas untuk hasil silangan kedua, Moling kedatangan tamu seorang guru dari Surabaya. Tamu ini (ternyata guru dari salah seorang anak Moling) menangis hampir tiada henti. Ia bercerita musibah kecelakaan yang menimpa putrinya, Margaretha Junita yang tengah menunaikan tugas belajar di Australia. Menurut cerita, kejadian tersebut juga “diwarnai” keganjilan. Pengemudi mobil yang juga teman Margaretha, terkejut oleh bayangan wanita yang sedang menyeberang. Seketika pengemudi hilang keseimbangan dan terjadilan tabrakan yang merenggut nyawa Margaretha Junita.

Moling segera sadar, inilah kesempatan ia menghibur ibu guru. Ketika nama Margaretha Junita oleh Moling ditawarkan menjadi nama silangan anggrek, sang ibu langsung setuju. Hari itu juga silangan kedua diberi nama Dendrobium Memorial Margaretha Junita. Ditambahi “memorial”, semata-mata untuk mengenang almarhumah.

Suatu hari keributan kecil mengusik keheningan para pekerja di kebun pembibitan anggrek seluas 2 hektar tersebut. Apa yang terjadi?

Seluruh anggrek silangan Dendrobium Memorial Margaretha Junita musnah. Bibit yang masih berada di dalam botol mendadak kering. Tanaman yang berusia remaja tiba-tiba layu. Tanaman yang sudah besar dan mulai berbunga rontok. Sulit dipercaya, karena akhirnya tidak satu pun tanaman tersisa. “Anehnya, tanaman anggrek yang berada di kanan dan kirinya tetap utuh” tutur Moling, seorang Dirut sebuah Bank yang banting stir menggeluti anggrek ini.zq/p@stic)


1 comment

Poskan Komentar

Air Terjun Rambut Moyo


Lokasi Air Terjun Rambut Moyo terletak di Desa Pelangsari, Kec. Puspo, sekitar 45 menit dari Nongkojajar. Sebaiknya untuk mencapai air terjun ini kita menggunakan kendaraan pribadi karena kendaraan umum hanya ada sampai Nongkojajar. Tapi mungkin bisa juga dilanjutkan dengan naik ojek.

Pintu masuk air terjun Rambut Moyo tampak terbengkalai dan tak nampak ada yang bertugas menjaga,  Anda hanya perlu bersikap ramah pada penduduk sekitar, hal ini akan sangat membantu anda untuk memperoleh tempat parkir kendaraan sekaligus bertanya mengenai asal-usul atau informasi pendukung lain mengenai situs Rambut Moyo, dengan alasan karena disana anda tidak akan menemukan satupun pemandu wisata atau Tour Guide.

berlatih berjalan jauh beberapa hari sebelum berangkat akan menambah stamina anda karena bagi anda yang jarang berolah raga akan menimbulkan rasa pegal dan sakit pada kaki khususnya betis. air terjun bisa dicapai ± 1 jam apabila kita berjalan santai. Perjalanan menuju air terjun jalurnya jelas dan menyenangkan. Selain jalannya tidak terjal, pemandangannya indah.

______________________________________________________________________
Saat melewati pintu gerbang kita berhadapan dengan rindangnya hutan pinus. Tak jauh berjalan, di kejauhan sudah terlihat lokasi air terjunnya. Kita akan tergoda untuk duduk-duduk dulu sambil menikmati semilir angin dan udara yang sejuk, agar lebih menyenangkan anda dapat membawa makanan ringan dan minuman,. Satu pesan dari kami, keep save aur nature jagalah kebersihan dan kelestarian lingkungan - buanglah sampah pada tempatnya - Dilarang berburu hewan.
______________________________________________________________________

Terdapat dua level dalam satu aliran air terjun, pertama bagian atas terlihat pendek, kedua bagian bawah yang terlihat tinggi.

Begitu tinggi bukit seolah air berhamburan membentuk titik-titik air hujan, dengan demikian selalu dalam suasana hujan rintik-rintik,. Mata kamera anda akan cepat basah dan anda akan sering membersihkan mata kamera untuk menghindari Blur.

Saat benar-benar tiba di air terjun, kita semua akan langsung terpesona. Ternyata pemandangannya sangat menawan. Sesuai dengan namanya, aliran air terjun ini mirip rambut, tipis namun tersebar banyak. Airnya terlihat jernih. Disekelilingnya pemandangan serba hijau. Di bebatuan yang dilewati aliran air terjun banyak ditumbuhi lumut tebal berwarna hijau. Banyak batu-batu besar berserakan disekitarnya. Yang paling menarik, kita bisa melihat pelangi diantara percikan air terjun. Indah sekali.
___________________________________________________________________________
Hempasan air yang pecah saat menerpa bebatuan, suasana yang teduh, udara sejuk, terpaan angin yang kadang membawa butiran halus percikan air terjun, membuat perasaan terasa sangat damai. Kita akan terlena dan tak ingin pulang.zq/p@stic)
___________________________________________________________________________


*) data diambil dari berbagai sumber


1 comment

Poskan Komentar

Telaga Willis Lebih di Kenal dengan Banyu Biru.

Letak Geografis

Jarak dari kota kurang lebih 20 Km. Luas wilayah Banyu Biru kurang lebih 4 hektar Wilayah desa Sumber Rejo Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Kera – kera yang di pelihara oleh penemu Banyu Biru ( P. tombro ) berkembang biak hingga beratus – ratus ekor. Pada waktu pendudukan Jepang kera-kera itu habis ditembaki dan sisanya menyingkir kehutan di dekat desa Umbulan yang terkenal dengan sumber air minumnya.


Prasasti – prasasti tersebut terdiri atas 11 buah patung antara lain :
1. 1 volkaning dari pemda Kabupaten Pasuruan dengan bahasa Belanda bertahun 1921
2. 1 prasasti bahasa dan huruf jawa tahun 1847
3. 1 patung betara siwa dengan membawa senjata trisula
4. 1 patung ganesya
5. 1 patung 2 ekor naga berbelit dan lain – lainnya yang kami sendiri tak bisa
Terdapat prasasti tertulis diatas batu pualam dengan huruf jawa yang berbunyi :

Telaga Wilis
Rinenggo winangun arja, dening tuan pawalopean. Manulyo tusdhani prasamya
nalika, panjenengane Kanjeng Adipati Nitiadi Ningrat singkalan “ Wisayaning panditha kaloking nat ”. Utawi tahun – tahun Weladeni 1847
Ø Air yang ada di banyu Biru adalah air sumber dan ceritanya setiap hari Jum’at legi orang yang mandi dan berendam disana akan awet muda dan mendatangkan berkah.
Ø Pada hari raya ketupat bila datang ke Banyu Biru untuk menabur uang logam ketelang ( bagian terdalam / tempat sumber ) dan segenggam ketupat serta nyadran ( selamatan ) di makam raja kera dapat membuang sangkal atau kesialan.


Legenda Telaga Willis
Para pedagang yang datang dari semenanjung Arab banyak menimbulkan perubahan dan peradaban baru di tanah air kita khususnya kerajaan Majapahit pada waktu itu. Agama islam yang di bawanya serta cepat sekali meresab dalam hati rakyat terutama rakyat kecil yang pada mulanya selalu hidup dalam lingkungan kasta dan perbedaan sesial lainnya. Pelan tapi pasti kerajaan Majapahit yang dulu di bangun dengan menelan korban harta dan jiwa mulai memudar cahayanya.

Selain disebabkan oleh pengaruh agama islam terdapat pula faktor lain yang mempercepat keruntuhan yaitu terpecah belahnya persatuan diantara pemimpin oleh seorang perwira Majapahit yang telah memeluk agama Islam yaitu Raden Patah lambat laun menampakkan kewibaannya.


Majapahit hancur berantakan, sebagian besar rakyatnya ikut memeluk agama nenek moyangnya. Mereka banyak yang melarikan diri kedaerah lain. Tempat lainnya yang menjadi daerah pelariannya yaitu disebelah selatan kabupaten Pasuruan, sekarang orang mengenalnya dengan daerah Tengger. Diantara sekian banyak pelarian dari Majapahit itu terdapat dua orang bekas prajurit Majapahit yang terdampar disebuah hutan yang sekarang lebih terkenal dengan nama desa Sumberejo, kecamatan Winongan kabupaten Pasuruan. Dua orang tersebut masing-masing bernama KEBUT dan TOMBRO. Hutan itu mereka babat untuk di jadikan daerah pemukiman baru. Oleh kerena pada saat itu banyak sekali tumbuhan pohon pinang maka daerah baru itu lebih terkenal dengan nama Jambaan ( Jambe = pinang, jawa ). Sampai sekarang nama jambaan masih ada dan menjadi salah satu pendukuhan desa Sumberejo. Dua orang bekas prajurit itu hidup dengan tenang dan untuk makannya sehari-hari mereka mengelola tanah. Selain hidup bertani Kebut juga membuka bengkel pandai besi. Sejak dulu dia memang terkenal sebagai empu yang mahir dalam membuat keris dan senjata tajam lainnya, barang peninggalannya yang berupa paron masih dapat disaksikan dan terletak disebelah makamnya yang terdapat dalam komplek pemandian Banyu Biru. Sedangkan tombro yang hanya bertani saja tapi namanya lebih menonjol daripada kebut.

Pada suatu hari kerbau peliharaan Tombro dilepas dari kandangnya. Sebagaimana kebiasaan setiap hari. Kedua ekor kerbau itu mencari makan sendiri tanpa ditemani oleh tuannya maupun gembala yang seharusnya mengawasinya. Begitulah kebiasaannya kalau kebetulan binatang-binatang itu tidak dipekerjakan disawah. Sore harinya pulang kekandang yang berdiri di belakang rumah pemiliknya. Tetapi pada hari itu ketika Tombro hendak menutup pintu kandang ternyata tidak melihat batang hdung kerbau-kerbaunya. Bergegaslah dia berangkat mencari ke hutan yangada disekitar desanya. Tidak begitu sulit mencarinya sebab dia melacak berdasarkan telapak kaki kerbaunya. Ternyata kedua ekor kerbau itu sedang asyik berkubang disebuah kolam kecil yang tidak pernah di ketahuinya Tombro berteriak-teriak agar hewan-hewan peliharaannya itu bangkit dan pulang kekandang .Rupanya kerbau itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya Tombro mendekat dan Tombro agak terkejut sebab kerbau-kerbau itu ternyata telah terperangkap dalam lumpur. Segera dipetiknya empat lembar daun keladi yang banyak tumbuh di sekitarnya. Keempat daun itu dia hamparkan didepan kedua ekor kerbau itu. Sekali lagi Tombro membentaknya tampak kedua ekor kerbau itu bergerak dan ujung kakinya menggapai daun keladi lalu tiba-tiba bangkit dan keluar dari kubangan. Hewan-hewan itu lari terbirit-birit pulang kekandangnya. Sepeninggal hewan-hewan peliharaannya Tombro berdiri sejenak dipinggir kolam kecil itu. Di pandangnya kolam itu dan kini dia tidak lagi menyaksikan lumpur yang keruh tapi sebuah kolam yang penuh dengan air yang jernih sehingga dasarnya yang berpasir itu kelihatan nyata. Bahkan disela-selah ranting yang berada didasar kolam tampak dua ekor ikan sengkaring sedang asyik berenang kian kemari. Menurut cerita dari masyarakat kedua ekor ikan itu lambat laun berkembang biak hingga sekarang. Pengunjung pemandian yang kebetulan datang dapat menyaksikan ikan-ikan itu, jumlahnya telah berlipat ganda dan berenang kian kemari seolah-olah berlomba dengan para pengunjung pemandian yang sedang mandi. 

Dari jernihnya air dasar pasir bebatuan sehingga airnya kelihatan biru. Dengan ditemukannya kolam ajaib itu maka penduduk jambaan banya datang menyaksikannya. Sejak itu para penduduk memeliharanya dengan baik. Dan kolam tersebut dinamakan Banyu Biru.
Kabar tentang ditemukannya kolam aneh itu sempat didengar oleh Bupati Pasuruan yang bernama Raden Adipati Nitiningrat. Bersama-sama seorang pembesar belanda yang bernama P.W Hopla ( sesuai dengan prasasti yang tertulis dengan huruf jawa ) kedua orang itu ikut pula menyaksikannya. Kolam itu kemudian dibangun oleh pemerintah Belanda dengan nama Telaga Wilis. Telaga ini dibangun terus oleh orang-orang belanda dijadikan pemandian umum. Untuk memperindah pemandian ini dibuat taman-taman bunga dan dilegkapi dengan berjenis-jenis patung yang diambil dari Singosari Malang.

Selain memelihara kerbau Tombro juga memelihara kera. Setelah wafat pak Tombro dimakamkan didekat pemandian dan kera-kera itu berkembang biak hingga beratus-ratus ekor. Pada waktu pendudukan Jepang, kera-kera itu habis ditembaki dan sisanya menyingkir kehutan di dekat desa Umbulan yang terkenal dengan sumber air minumnya.

Sedangkan cerita pak Kebut tidak banyak dibicarakan orang karena dia hanya menekuni pekerjaannya sebagai pembuat alat pertanian. Dia dimakamkan berjajar dengan makam istrinya yang bernama mbok Kipah. Dipinggir kolam renang lama disebelah utara tiap hari Jum’at orang-orang Tosari banyak berziarah kemakam tersebut. Menurut cerita penduduk setempat setiap ada orang yang berusaha memindahkan paron yang berada didekat makamnya meka keesokan harinya paron itu akan kembali ketempat asalnya. Kira-kira pada tahun 1980 patung-patung yang banyak bersejarah ditaman pemandian itu dikumpulkan disatu tempat dan dilindungi oleh seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan. Tempat itu berada didalam kompleks pemandian yang sekarang lebih terkenal dengan nama Banyu Biru .zq/p@stic)

__________________________________________________________________
data diambil dari berbagai sumber

Koordinat : 7°44'53"S   112°58'5"E 
Fasilitas :  
Kolam Alami
Kolam buatan Standar
Taman bermain
Parkir area


Poskan Komentar

SKI LOT



Atraksi ski lot, yakni bermain ski di atas lumpur, masih menjadi daya tarik acara tradisi Lebaran Ketupat (kupatan) di Pantai Lekok, Pasuruan, Jawa Timur.

Tradisi kupatan di Pantai Lekok yang kini dikemas dengan sebutan Pesta Pesona Bahari itu menyajikan atraksi ski lot, serta lomba perahu hias yang diikuti sejumlah perahu milik nelayan setempat, atraksi ski lot yang kini telah menjadi agenda rutin setiap tahun, awalnya juga hanya sekadar bentuk permainan di sela-sela para nelayan mencari kerang.

Ski lot merupakan daya tarik unik karena peserta harus menangkap kepiting, ikan lele dan belut dengan berselancar di lumpur. Tidak hanya pria, tetapi juga wanita mengikuti kompetisi. Orang-orang yang hadir untuk menyaksikan selalu bersorak sangat ramai untuk memberikan dukungan mereka yang bermain untuk bersaing mengejar kemenangan. Ini adalah bagian menarik dari atraksi ini.

Para nelayan awalnya hanya sekadar berlomba-lomba di tepi pantai. Namun kini ski lot telah menjadi paket hiburan yang bisa disaksikan bagi para pengunjung dengan nyaman, karena arenanya bukan lagi berada di tepi pantai yang becek.

Ski Lot disaksikan bayak pengunjung dari berbagai daerah

Sedangkan lomba perahu hias juga bukan semata lomba untuk mencari juara, melainkan dilakukan sebagai rasa terima kasih para juragan kapal terhadap para pandeganya (buruhnya), yakni sebagai sarana untuk membagi-bagi hadiah.

Lebaran ketupat bagi warga nelayan di Pantai Lekok merupakan hari istimewa, yakni mereka yang sebagian besar nelayan libur total, tidak mencari ikan ke laut. Mereka bersuka cita merayakan hari lebaran dengan menggunakan pakaian baru, dan saling bersilaturahim ke sanak saudara dan tetangga.

Kita hanya bisa menyaksikan objek wisata unik ini di Kecamatan Lekok Pasuruan dan mengambil gambar dokumentasi untuk mengabadikannya. Atraksi ini diselenggarakan setahun sekali dan dikunjungi oleh banyak orang, wisatawan domestik dan maupun asing.

________________________________________________________________
Data diambil dari berbagai sumber


Poskan Komentar

Candi Gunung Gangsir

foto : Nasional Library (Candi Gunung Gangsir)
Disebut juga dengan candi kebon candi karena terletak di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Nama candi ini masih merupakan mitos penduduk sekitar, yaitu bahwa nama 'gunung' diambil dari keberadaan bangunan candi ini di masa lampau yang dilingkupi oleh gunung. Sedangkan kata 'gangsir' (Jawa: nggangsir) berarti menggali lubang di bawah permukaan tanah. Menurut keterangan penduduk, nama ini muncul ketika pada suatu saat ada seseorang yang berusaha 'menggangsir' gunung ini untuk mencuri benda-benda berharga di dalam bangunan candi ini. Maka dikenal-lah bangunan candi ini dengan nama Candi Gunung Gangsir. 
Bangunan candi yang terbentuk terbuat dari batu bata ini, memiliki 4 lantai, dengan dua lantai dasar yang merupakan tubuh dan atap candi yang sebenarnya. Denah lantai dasar merupakan segi empat dengan sebuah tonjolan pada sisi timur, berlawanan arah dengan keletakan tangga. Denah tubuh dan atap candi juga segi empat, tetapi pada bagian ini keempat sisi dinding tubuh candi memiliki sebuah bidang tonjolan yang ramping. Sekarang kondisi candi berupa runtuhan, dan hampir semua sudut pada lantai-lantai dalam keadaan rusak, begitu juga pada bagian-bagian yang horisontal, tempat bertemuya lantai-lantai tersebut, sedangkan bagian puncak candi telah hilang. Akibat kerusakan ini, bangunan candi Gunung Gangsir tampak seperti bentuk piramida yang telah terpotong bagian atapnya.
salah satu Relief
Candi Gunung Gangsir
Tidak banyak informasi yang bisa didapat mengenai candi yang konon dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga, yaitu sekitar abat ke-11 M. Walaupun diperkirakan berasal dari masa yang lebih awal sebelum masa pemerintahan Singasari, Candi Gunung Gangsir dibangun menggunakan bahan batu bata, bukan batu andesit.

Mengenai fungsi Candi Gunung Gangsir tidak didapatkan informasi yang jelas. Masyarakat setempat mempunyai versi tersendiri mengenai tujuan pembangunan candi ini. Menurut mereka, Candi Gunung Gangsir dibangun sebagai penghormatan kepada Nyi Sri Gati, yang dijuluki Mbok Randa Derma (janda murah hati), atas jasanya dalam membangun masyarakat pertanian di daerah itu.

Nyi Sri Gati merupakan tokoh dalam legenda masyarakat setempat. Pada zaman dahulu masyarakat di daerah itu belum mengenal kehidupan bercocok tanam. Mereka senang mengembara dan makanan utamanya adalah sebangsa rerumputan. Suatu saat, rerumputan yang menjadi makanan pokok mereka mulai menipis persediaannya. Pada saat itu datanglah seorang wanita, entah dari mana asalnya, bernama Nyi Sri Gati. Wanita itu mengajak para pengembara untuk berdoa, meminta petunjuk kepada Sang Hyang Widi tentang bagaimana caranya mengatasi kekurangan pangan yang mereka alami. Tak lama kemudian datang serombongan burung sebangsa burung gelatik dengan membawa padi-padian, lalu menjatuhkannya di dekat para pengembara. Padi yang jatuh itu kemudian ditanam oleh Nyi Sri Gati. Beberapa bulan kemudian, tanaman Nyi Sri Gati sudah dapat dipanen. Nyi Sri Gati kemudian menumbuk hasil panennya untuk dijadikan beras, yang kemudian diolahnya menjadi nasi. Nyi Sri Gati kemudian mengajarkan cara bercocok tanam kepada para pengembara. Sejak saat itu, masyarakat pengembara tersebut menetap dan hidup dari bercocok tanam. Mereka menjadikan padi sebagai makanan pokoknya. Sebagian dari padi yang dijatuhkan burung tadi berubah menjadi permata yang membuat Nyi Sri Gati menjadi kaya raya.
_____________________________________________________________________
Candi Gunung Gangsir belum pernah mengalami pemugaran secara menyeluruh. Walaupun secara keseluruhan bangunan Candi Gunung Gangsir masih megah berdiri, namun banyak bagian yang telah hancur. Konon candi ini mengalami kerusakan berat pada zaman penjajahan Jepang. Banyak hiasan pada dinding candi yang diambil oleh tentara Jepang untuk membiayai perang. Setelah Jepang berlalu, penduduk melakukan perbaikan sekedarnya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang pemugaran candi. Beberapa potongan bata atau hiasan dinding terlihat sangat berbeda dengan tempatnya menempel. Sepertinya letak yang sebenarnya bukan di tempat tersebut.
Kaki candi berbentuk segi empat dengan dengan ukuran sekitar 15 x 15 m2. Tinggi bangunan mencapai sekitar 15 m. Di dalam tubuh candi terdapat ruangan yang konon cukup luas, sehingga dapat menampung 50 orang. Pintu masuk ke ruangan tersebut terletak di sebelah barat, berjarak sekitar 5 m dari tanah. Untuk mencapai pintu terdapat tangga yang cukup lebar, yang menjorok jauh ke barat. Sayang sekali tangga tersebut telah hancur, sehingga sulit untuk ditapaki.
_____________________________________________________________________
Pada dinding di sisi kanan dan kiri atas pintu terdapat relung yang terlihat seperti tempat meletakkan arca. Relung di sisi selatan sudah hancur, sementara yang di sisi utara masih tampak bekasnya. 
Proses pemugaran sampai saat ini masih berjalan
Saat ini atap candi berbentuk melengkung dengan ujung tumpul seperti puncak gunung. Bagian puncak atap sudah hancur, namun masih terlihat lapik penyangga puncak atap. Dari belakang, bangunan candi tampak seperti bukit kecil yang terbuat dari batu bata. Tidak terdapat relung-relung tempat meletakkan arca.

Beberapa hiasan masih menempel pada dinding candi. Di kiri dan kanan puncak tangga terdapat hiasan berupa pahatan gambar wadah berhiaskan sulur-suluran dan gambar seorang wanita. Hiasan yang terbuat dari batu bata tersebut sangat halus, nyaris terlihat sebagai hasil cetakan, bukan pahatan.
__________________________________________________________________________
Data diambil dari berbagai sumber


Poskan Komentar

TARI TERBANG RUDAT

Para penari Terbang Rudat
Istilah rudat Secara etimologis rinciannya belum ditemukan secara jelas. Tapi menurut sumber-sumber mengenai rudat, istilah ini bisa berasal dari bahasa Arab "rudatun" yang artinya "Taman Bunga". Dalam penjelasan lain dikatakan bahwa rudat adalah sejenis kesenian tradisional yang semula tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren. Seni rudat merupakan seni gerak dan vokal di iringi tabuhan ritmis dari waditra sejenis terbang. Syair-syair yang terkandung dalam nyanyiannya bernafaskan kegamaan, yaitu puja-puji yang mengagungkan Allah, Shalawat dan Rosul. Tujuannya adalah untuk menebalkan iman masyarakat terhadap agama Islam dan kebesaran Allah. Sehingga manusia bisa bermoral tinggi berlandasan agama Islam dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian, seni rudat adalah panduan seni gerak dan vokal yang diiringi musik terbangan (Rebana) di mana di dalamnya terdaapat unsur keagamaan, senitari dan seni suara

TARI TERBANG RUDAT merupakan salah satu kesenian daerah di Jawa Timur. Tari ini merupakan kesenian berkarakter agama Islam yang dibawakan oleh para penari, vokalis dan pemain musik Rudat, dimana kolaborasi mereka harus tidak ada ketimpangan antara tarian, vokal dan musik, agar terlihat  selaras. Lirik lagu yang dibawakan kesenian yang diiringi dengan musik terbang ini berisi lagu sanjungan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kesenian ini berkembang di daerah Purwodadi Kabupaten Pasuruan.

Dalam menyajikan kesenian rudat penari menggunakan kostum seragam yang menandakan bahwa mereka harus hidup rukun dengan tetangga, Alat musik utama yang digunkan dalam seni rudat adalah terbang (rebana) dikolaborasikan dengan beberapa jenis alat musik yang lain, diantaranya: Gedong, Bibit, Mapat Telu, Kemcang, Kempul Kembar, Nganak,  Kempul yaitu alat musik yang digunakan dalam seni rudat minimal berjumlah delapan buah, apabila jumlah alat musik yang di gunakan kurang dari delapan musiknya akan terdengar timpang. Jika alat musik yang digunakan lebih dari delapan musik akan tetap terdengar harmonis.


Poskan Komentar