Hutan Mangrove Nguling

Hutan Mangrove
Kekayaan alam Kabupaten Pasuruan memang sangat lengkap, di selatan berbatasan dengan pegunungan yang anggun, mulai Gunung Bromo dengan panoramanya yang sangat terkenal sampai ke seluruh dunia, rangkaian pegunungan Arjuno Wlirang yang penuh dengan kekayaan peninggalan sejarah budaya di jaman kerajaan majapahit dan kerajaan singhasari, sementara di utara adalah daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan hamparan laut yang menawan dimana terdapat banyak sekali obyek yang sayang jika tidak di kunjung.

Salah satu obyek yang menarik di wilayah pesisir pasuruan adalah Hutan Bakau (Mangrove) yang berada di Desa Penunggul Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan, Kecamatan di bibir pantai di sebelah timur Kabupaten Pasuruan yang berbatasan Langsung dengan Kabupaten Probolinggo.

Sabuk Hijau Pantai
Keberadaan Hutan Mangrove ini berawal dari kepedulian seorang warga pesisir timur yang bernama Pak Mukarim terhadap lingkungan sekitarnya, menurut beliau kawasan ini dulunya jarang sekali ditumbuhi tanaman, bahkan terjadi Abrasi yang tiap tahun semakin mendekati pemukiman, kemudian pada tahun 1982 Pak Mukarim berinisiatif untuk menanam, pohon bakau di sepanjang bibir pantai desanya.

Pak Mukarim dengan
Trophi Kalpataru
Berkat kerja keras saat ini lahan hutan mangrove yang ada sudah mencapai 144 ha sepanjang 2 Km di bibir pantai Desa Penunggul, dan ada 4 jenis tanaman bakau dari kurang lebih 123 jenis tanaman bakau yang ditanam di hutan mangrove ini, diantaranya Rhyzapora Mucronata, Abisina Alba, Rhyzapora Apiculata, Alasina Marina. dan yang paling menarik tempat ini menjadi percontohan hutan-hutan mangrove di seluruh indonesia, ini dibuktikan dengan Penghargaan Kalpataru dan penghargaan Satya Lencana pembangunan yang diberikan pemerintah negara kepada Pak Mukarim, bahkan bahkan banyak sekali tamu-tamu dari luar negeri berkunjung ke hutan mangrove ini untuk belajar seperti : Jepang, Norwegia, kawasan Britania Raya (Inggris dan Scotlandia), Malaysia, Australian dan beberapa negara lainnya.

Salah satu Species yang
hidup di sekitar 
Hutan Mangrove Nguling
Kekayaan alam dan pemandangan yang indah berbaur dengan aktivitas penduduk asli disekitar yang mayoritas adalah nelayan menambah kesan eksotis kawasan ini dan layak untuk disebut sebagai Sabuk Hijau Pantai.

Bibit Tanaman Mangrove
Sesuai dengan fungsinya Hutan Mangrove sebagai lahan konservasi penyeimbang ekologis terdapat banyak jenis fauna dari bangsa burung dan jenis melata bahkan sampai jenis amphibi terdapat disini dan memiliki nilai ekonomis sebagai sumber pendapatan masyarakat pesisir langsung atau tidak langsung, selain menanggulangi abrasi juga sebagai pemecah ombak jika terjadi gelombang besar yang mengancam kawasan pemukiman.


Di Hutan Mangrove telah di lakukan juga pembibitan tanaman-tanaman yang biasanya digunakan untuk penghijauan.dan telah didistribusikan ke berbagai daerah, seperti bondowoso, sidoarjo, juga daerah-daerah lainnya.

zq/p@stic)


2 comments

Poskan Komentar

RAWON SATE PASURUAN


Selain kaya akan obyek wisata alam, Kabupaten Pasuruan juga menyimpan beraneka khasanah Kuliner. Salah satunya adalah Rawon Sate khas Pasuruan. Bagi sebagian orang, Nasi Rawon dengan Lauk berupa sate mungkin dianggap sesuatu yang tidak lumrah. Namun bagi warga Pasuruan serta mereka yang pernah mencicipi Kuliner ini, tentu sudah bukan hal aneh lagi.

Rawon sate biasanya disajikan dalam kondisi panas, terdiri atas seporsi nasi rawon dengan kuahnya yang tidak terlalu pekat. Serta setusuk sate komo (sate bumbu kuning) yang ukurannya boleh dibilang raksasa. Terlihat lebih nikmat lagi dengan tambahan sambal pedas diatas kecambah (Toge), serta sambal merah menyala dari bumbu bali yang ditambahkan disampingnya.

Tampilan sate komo begitu dominan dalam seporsi rawon. Walau berisi tiga tusuk daging saja, namun ukurannya yang sebesar lengan bayi itu, cukup menyita perhatian. Apalagi bau sedap sate komo dengan aroma sedikit gosong, berpadu dengan uap panas menyengat dari nasi rawon. Dalam kondisi sepanas apapun penikmat kuliner pasti tidak sabar untuk segera menyantap masakan unik ini.

Rawon pasuruan memang hampir sama dengan rawon-rawon yang lain, bahkan kuahnya terlihat bening. Namun dari segi rasa, bumbu rawon pasuruan memang sedikit lebih menggigit. Apalagi ketika bercampur dengan bumbu dari sambal, maupun bumbu dari sate komoh. Kekuatan aroma dan rasa  Rawon Sate semakin beragam dan kaya bumbu. Daging sate yang berukuran jumbo itupun terasa empuk dan lunak, karena sebelum dipanggang ala sate. Daging-daging tersebut sudah dimasak lunak dalam rendaman bumbu.

Jika anda kaget dan merasa eneg dengan tampilan Rawon Sate, anda boleh mencoba memilih lauk lain yang juga banyak tersedia. Seperti, empal, paru, babat, dan lain-lain. Tapi bagi anda yang memang ingin merasakan sensasi sedikit berbeda, tidak ada salahnya mampir ke Pasuruan, dan mencoba sendiri kenikmatan Rawon Sate Khas Pasuruan.zoer/p@stic)

Rekomendasi Rawon Sate Pasuruan :
(NB : urutan tidak menandakan grade rekomendasi)
  1. Rawon Sakinah Bangilan (Jl. Kartini Pasuruan)
  2. Depot Jawa (Pasar Pasuruan Depan Stasiun Kota)
  3. Rawon Sederhana (Pasar Poncol /jalan Alun-alun Pasuruan Sisi Timur)



    Poskan Komentar

    KARIMUNJAWA ARCHIPELAGO

    Karimun Jawa

    Hamparan laut biru Karimun Jawa terpampang di hadapan, pemandangan yang melegakan hati.

    Terdengar suara berteriak kegirangan dari penumpang kapal Feri Muria. Maklum saja, mereka telah lelah,  setelah  6 jam, berada dalam kapal berlebihan muatan ini.

    Sebuah penantian yang panjang, penuh penderitaan demi untuk menikmati KARIMUNJAWA ARCHIPELAGO dengan 27 pulaunya. Begitu indah dan alami.

    Kami para backpacker dari seluruh Indonesia, yang dengan sukses membuat kapal Feri Muria kelebihan muatan, langsung berhamburan keluar kapal. Seperti seorang narapidana yang baru saja dibebaskan dari  sel penjara.

    Dengan didampingi tour leader, kami diarahkan untuk menuju  mobil jemputan, yang akan membawa kami ke homestay. 

    Mobil yang menjemput kami kuno sekali, buatan tahun 70-an. Seperti yang digunakan di film Laskar Pelangi. Teringat Laskar Pelangi, hati ini menyakinkan diri bahwa sedang berada di karimun Jawa bukan di Belitong , salah satu tempat yang wajib dikunjungi para Backpacker, tempat Ikal dan Lintang belajar di sekolah Muhamadiyah yang hampir roboh itu.

    Homestay kami sangat sederhana, yang juga rumah salah seorang warga Karimun Jawa, dengan menginap di rumah warga, kedekatan dengan warga sekitar akan cepat terjalin. Setiba di homestay, tubuh yang telah  lemas menemukan mangsanya, tempat tidur dengan sprei yang masih baru. Jatah satu Kamar dibagi untuk 6 orang dengan 2 springbed, satu orang mendapat jatah satu bantal.

    Suara gemerincing sendok, garpu dan piring mulai terdengar. Mereka yang sedang kelaparan menuntaskan hajatnya. Menu hari ini cumi - cumi ( squidward ) mendengarnya suara sendok dan garpu saling beradu, sungguh sebuah penderitaan. Kebetulan hari pertama di Karimun itu saya sedang puasa. Puasa akibat kekecewaan yg mendalam, antara cinta dan benci yang membara. Kekecewaan yg akan segera bayar tuntas di Karimun Jawa atau jika tidak, biarkan tubuh ini menjadi santapan hiu yang sedang berbulan madu.

    Matahari perlahan tenggelam, kami rombongan dari Surabaya beserta backpacker lainya dari Medan, Jakarta dan Tasikmalaya ( nanti akan saya kenalkan siapa saja meraka dan latar belakangnya ) menuju dermaga untuk menikmati Sunset Karimun Jawa. Pulau yang telah ditetapkan oleh pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional, sejak 15 Maret 2001.

    Berburu Bintang Laut

    Sambil berfoto – foto dengan latar belakang Sunset, kami saling mengenal satu sama lain .  Menikmati aktifitas warga Karimun yang mayoritas bekerja sebagai nelayan dan pelayan jasa wisata.

    Segerombolan anak muda turun dari kapal, jika melihat tabung oksigen yang mereka bawa, sepertinya baru saja pulang dari latihan menyelam. Tentunya, latihan itu sebagai bekal, bagi mereka untuk menjadi pemandu wisata kelak, karena potensi wisata di kawasan ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan.

    Matahari sudah tidak tampak lagi dan menutup segala aktifitas di dermaga.

    Keesokan harinya petualangan menuju pulau – pulau  kecil dimulai. Dengan semangat Pejantan Tangguh  telah bersiap menjamah “PERAWAN JAWA” julukannya, paras perairanya sangat bening, pasirnya amat putih bersih. Hari pertama bersama perawan jawa, akan kami habiskan di pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil dengan jasa kapal nelayan. Kami akan berenang, bersnorkling, berjemur ria dan makan ikan laut.

    Kapal nelayan telah menunggu di dermaga, kami siap untuk berangkat dengan pelampung yang  telah menempel ala kadarnya. Mesin kapal telah dinyalakan, meraung - raung menunjukkan kesiapanya menerjang ombak. Kapal mulai melaju, melewati riak - riak kecil gelombang lautan. Hati gembira, berteriak kegirangan, setiap ada percikan air laut yang menyentuh, membasahi tubuh kami. Hari itu adalah hari dimana untuk pertama kalinya menyadari bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut dan kami sebagai anak cucunya siap meneruskan tradisi itu.

    Wajah sumringah, penuh kebahagian, terlihat diantara para backpacker yang datang dari nusantara. Kapal elayan makin lama menjauhi  Karimun. Bicara soal ama Karimun sendiri , nama itu diberikan oleh Sunan Muria, salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa. Berasal dari  kata kremun – kremun , karena terlihat samar – samar bila dilihat dari Gunung Muria. Di pulau inilah tempat "pembuangan" Syech Amir Hasan Putra Sunan Muria, untuk memperdalam ilmu agama. 

    Berjemur dan Bermain pasir

    Setelah 30 menit perjalanan, pulau Karimun sudah kremun - kremun dari kapal nelayan. Kami
    menuju surga terumbu karang, hutan bakau, hutan pantai, serta hampir 400 spesies fauna laut. 
    Diantaranya 242 jenis ikan hias, 90 jenis karang keras, telah siap menyambut kedatangan kami.

    Dengan jarak tempuhh 14 mil ( sekitar 22 km ) dari kepulauan Karimunjawa, kami telah tiba di pantai Pulau Menjangan Kecil, kapal nelayan berhenti dan melempar jangkar. Dengan briefing ala kadarnya pemandu memperagakan cara penggunaan peralatan snorkling dan kaki katak. Sepertinya tidak peduli bahwa tidak semua peserta bisa berenang, yang bisa berenangpun sedikit was – was, karena berenang di laut tidak sama dengan berenang di kolam renang.

    Herannya yang tidak bisa berenangpun sangat antusias, dan dengan tekat bangsa pelaut,  sudah siap untuk turun dari kapal, segera berenang bersama ikan. Pesan moral dari kisah ini, jika anda ingin pandai berenang, jangan belajar di kolam renang, belajarlah di Pulau Menjangan Kecil, karena ikan - ikan disana adalah pelatih renang yang handal.

    Tanpa mempedulikan skill berenang dan snorkling, dengan tidak sabar kami semua turun ke laut, karena sudah tidak tahan melihat betapa biru dan jernih airnya dan ikan hias yang lucu – lucu seperti melambaikan tanganya menyambut kami semua maka sejak itu urusan keamanan menjadi nomer dua. Sudah tidak peduli lagi dengan bulu babi yang berbahaya dan tersebar disana. Jika terkena bulu babi tersebut, resikonya kami harus dibawa ke Puskemas terdekat dan kita semua tahu, tidak ada Puskesmas di laut lepas.

    SNORKLING

    Kecerahan kedalaman laut Menjangan Kecil antara 5-7 meter mampu memanjakan mata. Tak lelah, melihat ke dalam laut yang indah ini penuh aneka ikan warna warni, terumbu karang yang masih alami. Sang pemandu mengajak kami untuk menyaksikan Nemo ( Clownfish ). Ingat adegan ketika Marlin ( Ayah Nemo ) sedang mencari Nemo ? Seperti itulah rasanya snorkling di Pulau Menjangan Kecil. Disini Nemo yang kami cari sepertinya malu – malu, dia sedang sibuk bermain di terumbu karangnya. 

    Salah satu anak pantai  Karimun Jawa dengan kemampuan berenang dan menyelamnya. Berusaha menangkap Nemo tanpa alat snorkling dan kaki katak . Tidak mudah memang menangkapnya., selain tubuhnya yang mungil, terumbu karang yang masih subur dan alami menjadi tempat persembuyuian yang nyaman. Dengan skill yan luar biasa, akhirnya berhasil juga dia menangkap si Nemo dan mempersembahkan ikan itu kepada manusia darat seperti kami ini, untuk keperluan narsisme, berfoto bersama Nemo dan menjadi Photo Profile Facebook.

    Pulau Menjangan Kecil


    Tidak puas dengan itu, kami menuju kapan nelayan, mengambil camilan, snack, nasi sebagai persediaan makanan, untuk kami berikan kepada gerombolan ikan – ikan hias. Ikan - ikan itu wajib kelaparan agar mau kami kasih makan, demi kesenangan kami pribadi. Rasanya menyenangkan sekali, memberi mereka makan langsung di dalam laut dan karena makanan itulah, ikan – ikan mengerubungi kami untuk antri, mendapatkan jatah makanan. Selain ikan yang beribu - ribu jumlahnya, pemandangan Karang Merah  khas Karimun Jawa ( Tubipora musica ) makin menambah keindahan suasana dalam laut.

    Setelah puas bersnorkling, kami naik kembali ke kapal nelayan menuju Pulau Menjangan Kecil untuk beristirahat. Hari mulai mendung dan hujan rintik – rintik mulai turun. Sepertinya tidak puas berenang di laut kami kembali menghabiskan waktu bermain pasir putih dan mencari karang – karang dan bintang laut, tidak peduli tubuh mulai menggigil dan kulit mulai layu karena kedinginan. Acara hari itu ditutup dengan makan ikan bakar. Senang, puas dan kenyang.  zal/p@stic)



    Poskan Komentar

    Arjuno Wlirang



    Gunung Wlirang
    Gunung Welirang (atau Walirang, nama kuna) merupakan sebuah gunung yang terdapat di Kab Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. "Welirang" dalam bahasa Jawa berarti belerang. Gunung Welirang mempunyai ketinggian setinggi 3,156 meter dan memiliki kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

    Gunung Arjuno
    Gunung Arjuno (atau Gunung Arjuna, dalam nama kuna) terletak di Kab. Pasuruan Jawa Timur, bertipe Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl dan berada di bawah Pengelolaan Tahura Raden Soeryo. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu.

    Gunung Arjuno bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuno terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang. Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuno dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah timur Batu, Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.

    Gunung Arjuno mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

    View Arjuno Wlirang dari puncak penanggungan
    Gunung Arjuno dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang dan Purwosari) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.

    Arjuno Wlirang merupakan sebuah rangkaian pegunungan yang menawan, yang membelah dua daerah yaitu Malang dan Pasuruan, Jalur Pendakian bisa ditempuh dari beberapa titik yaitu dari Purwosari, dan Tretes- Prigen Kab. Pasuruan serta Cangar (Kab. Malang), masing masing mempunyai kelebihan,

    1. JALUR PURWOSARI
      Jika kita melalui Jalur Purwosari, maka kita akan menemukan banyak situs-situs purbakala peninggalan masa Majapahit dan Singhasari. Salah satunya adalah situs pertapaan Bathara Guru. 
      Tambakwatu Kecamatan Purwodadi, merupakan desa terakhir sebelum memasuki hutan Lalijiwo, Penuh aroma mistis
      Setelah melewati desa Tambak Watu sekitar dua jam jalan kaki, juga akan di jumpai beberapa peninggalan purbakala di tengah-tengah hutan. Selain itu jalur Purwosari juga menyajikan panorama yang mengagumkan, dengan jurang-jurangnya yang membelalakan mata, sayang sekali untuk dilewatkan.

      Jalur ini yang lumayan berat, karena membutuhkan waktu lebih dari 10 jam perjalanan. Jalur ini sangat cocok untuk pecinta olahraga ekstrim, karena memiliki banyak tantangan, tak heran di jalur ini juga telah banyak menelan korban.

      2.JALUR TRETES
          Jalur tretes adalah jalur yang paling menarik bagi pecinta wisata, karena disana akan banyak dijumpai spot-spot menarik. Mulai air terjun, bumi perkemahan, dan di bumbuhi oleh pemandangan para penambang belerang yang lalu lalang.

          Perjalanan melalui jalur tretes dimulai dari Sitompul ( pintu masuk ke kawasan camp ground)   Kami belum bisa mendapatkan informasi kenapa tempat itu di sebut demikian. Selama perjalanan akan ditemui beberapa pos pemberhentian yang pertama yaitu :



          • Pos Perijinan
          Tepat disebelah Kantor Perhutani dan berhadapan kita akan menemukan sebuah pos .  Disanalah perijinan dan administrasi dilakukan, sebelum masuk ke kawasan, Arjuno Wlirang.

          ARJUNO WLIRANG
          Kelengkapan administrasi untuk perijinan biasanya kita diminta untuk meninggalkan KTP atau Tanda Pengenal yang lain. Serta mengisi Form data diri dan kesanggupan, serta check list peralatan dan perlengkapan juga logistik, dan membayar biaya perijinan sebesar Rp.4.100,- (sudah termasuk asuransi).

          Di sanalah tempat kita mempersiapkan segala sesuatunya, kekurangan logistik bisa membeli barang-barang yang di butuhkan di toko sekitar tempat ini, dan bisa menyewa peralatan dan perlengkapan yang di butuhkan di pos perijinan.
          • Pep Bocor
          Sekitar 1-2 jam jalan kaki, beberapa tahun yang lalu tempat ini masih sangat rimbun dan menarik untuk pemula.  Seiring dengan perkembangan tempat ini mulai rusak karena pepohonan yang dah telah berubah menjadi tanaman jagung dan pisang,. Jalannya sudah tdk alami lagi, karena telah dibangun jalur untuk mobil pengangkut belerang sejak beberapa tahun yang lalu. Para pecinta alam tidak perlu kuatir,  masih ada beberapa spot yang menarik yang bisa di temukan disini,  :

          Kurang lebih 1 sampai 1,5 jam perjalanan kearah barat pep bocor kita akan menemukan air terjun Alap - Alap, sangat menakjubkan dengan tebing-tebing batu yang cadas menambah keanggunannya, 

          Melalui jalur ini, kita juga bisa masuk kedalam area camp ground dan wanawisata air terjun Kakek Bodo, sehingga jalur ini paling ramai di lalui
          • Kop-kopan
          Ini adalah pos tempat pemberhentian para penambang belerang yang pertama, disana terdapat beberapa pondokan tempat istirahat para penambang belerang yang dibangun dengan fasilitas seadanya. Ini yang sangat menarik karena kita juga bisa ikut masuk dan beristirahat didalamnya selama penghuninya sedang tidak ada.

          Kop-kopan juga menawarkan pemandangan yang anggun dari tempat ini kita bisa melihat puncak Wlirang, puncak Limas, gunung Ringgit dan gunung Penanggungan yang mempunyai banyak mitos dan sejarah. Kita akan sampai di tempat ini setelah perjalanan kurang lebih 3-4 jam dari pep bocor dengan jalan kaki.

          Di tempat inilah mulai terasa suasana alam rimba, karena ini adalah jalur terakhir atau pemberhentian mobil pengangkut belerang setelah itu kita akan masuk kedalam Alas Lali Jiwo ( Hutan lali jiwo ), yang terkenal dengan suasana mistisnya.
          • Pondokan
          Pondokan adalah pos terakhir pemberhentian dan tempat transit para penambang belerang dan para pendaki, untuk menuju ke puncak kita dapat mencapainya dalam waktu 3-4 jam perjalanan dari kop-kopan.

          Selama perjalanan kita akan di temani dengan lebatnya pepohonan alas Lali Jiwo dan jurang-jurang yang membentang serta banyaknya burung Johan yang berjalan ditanah dan sesekali terbang untuk berpindah tempat.

          Jika kita beruntung kita akan ditemui kijang ( Rusa)  juga budheng (monyet hitam besar), tapi jika kita sedang sial kita akan bertemu dengan babi hutan yang tak segan-segan akan mengejar kita.
          Disini kita dituntut untuk sangat berhati-hati karena hutan ini dikenal sangat angker dan sudah banyak memakan korban.

          Pondokan juga merupakan persimpangan untuk menuju puncak wlirang melalui jalan setapak ke barat puncaknya bisa di tempuh dalam waktu sekitar 2-3 jam, atau menuju jalan setapak kea rah timur jika menghendaki menuju puncak arjuno, melalui lembah kijang yang dapat di tempuh selama 3-4 jam.

          Lembah kijang adalah sabana yang sangat luas, tapi juga sering kali membuat para pendaki tersesat, karena di lembah kijang ini, track atau jalur pendakian sering kali hilang karena tumbuhnya rumput-rumputan yang menutupi jalur.

          Puncak wlirang adalah puncak paling barat dari rangkaian pengunungan ini, disana menawarkan panaroma yang eksotis dari kawah wlirang, dan suasana puncak yang menawan.

          Dari puncak Wlirang kita bisa menuju puncak Anjasmoro dan gunung kembar tapi akan memakan waktu sehari lagi perjalanan, disana akan tampak panorama yang yang tak kalah menariknya.

          Sayangnya dengan banyaknya pendaki yang mengunjungi pegunungan ini masih sedikit tingkat kesadaran mereka akan kelestariannya. Hal ini tampak dengan banyaknya sampah bungkus mie instant dan botol air mineral, juga bungkus dari produk-produk yang tak ramah lingkungan berserakan selama perjalan dan juga coretan-coretan di batu dan pepohonan.

          Kesimpulannya, seberapa sadar sih masyarakat ini akan kelestarian lingkungan, jawabannya pasti sudah ada di hati kita masing-masing, tinggal bagaimana cara kita untuk berpartisipasi dengan memulai mengingatkan orang-orang disekitar kita tentang rusaknya bumi kita ini,zq/p@stic)

          keep action save our nature 







          8 comments

          Poskan Komentar

          KLEPON GEMPOL

          Pedagang asongan itu mengambil kesempatan masuk kedalam ketika bus kami transit di halte daerah Gempol, Kabupaten Pasuruan. Dengan cekatan dia membagi-bagikan dagangannya dalam kemasan kotak karton kecil seukuran harddisk portable.
          “Klepon hangat…, Klepon hangat…” Demikian dia menawarkan dagangannya. Beberapa penumpang dengan penasaran mencoba membuka tutup dan melihat isi didalam kotak karton.
          Klepon Gempol, demikian populer semenjak akhir tahun 90-an. Makanan kecil berbentuk bulat seukuran kelereng, dengan warna hijau pandan, dilengkapi taburan parutan kelapa diatasnya.

          Memang sudah lama menjadi makanan khas yang dijajakan disepanjang jalan utama Gempol – Pasuruan. Disepanjang jalan wilayah Gempol, anda akan temukan puluhan kios yang menjual klepon .Diantaranya Wahyu Klepon, Lisa Klepon, Ridho Klepon, Klepon Barokah, dan banyak lagi yang lainnya.

          Klepon termasuk salah satu dari rangkaian Jajanan Pasar tradisional yang sudah ada sejak lama. Di pasar-pasar tradisional. Klepon dijual bersama jajanan lain semisal Cenil, Lupis, Gempo, Klanting, dan lain-lain. Namun, karena ada keunikan yang cukup khas, tak heran para konsumen lebih mengidolakan makanan yang di daerah lain juga  dinamai dengan sebutan “Onde-onde” ini.

          Klepon terbuat dari adonan tepung beras ketan yang dibentuk bulatan-bulatan seukuran kelereng. Sebelumnya, didalam masing-masing bulatan klepon itu, diisi oleh cairan gula merah. Kemudian, dengan cairan gula didalamnya, klepon direbus hingga matang. Lantas disajikan dengan parutan kelapa diatasnya.
          Keunikannya adalah, tatkala konsumen menikmati masing-masing butiran klepon, seketika cairan gula akan “muncrat” didalam mulut.
          Memberi sensasi rasa manis diantara kekenyalan daging klepon itu sendiri. Anda akan sulit berhenti mengunyah, hingga tanpa disadari butiran-demi butiran klepon dalam satu kotak habis dalam sekejap.

          Walau termasuk jajanan lokal tempo dulu, keunikan dan cita rasa klepon memang masih mampu bertahan hingga sekarang. Apalagi tatkala klepon saat ini dikemas dalam wadah yang menarik, serta memungkinkan untuk dibawa ke tujuan lain sekedar untuk buah tangan atau dinikmati sendiri. Eksistensi Klepon mungkin tidak akan tergilas jaman.

          Kendati bencana Lumpur Lapindo berimbas dengan ditutupnya jalan tol Gempol, namun peminat Klepon tidak pernah surut. Bahkan beberapa pengendara dengan tujuan Malang lewat jalan raya Porong - Japanan, rela menempuh jalur memutar lebih jauh kearah Gempol, demi mendapatkan beberapa kotak jajanan klepon.

          Masing –masing kotak biasanya berisi antara 15 – 20 butir klepon. Dengan harga yang cukup terjangkau ( Rp. 3000 - Rp. 3500 ) per kotaknya. Sensasi cairan gula “muncrat” didalam mulut bisa menjadi pengalaman yang unik bagi para pecinta kuliner.

          Akhirnya bus kembali melaju melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Dengan dua kotak Klepon khas Gempol diatas pangkuan. Kiranya kejenuhan melewati kemacetan Raya Porong di rute berikutnya, tidak akan menjadi suatu hal yang membosankan. zoer/p@stic)


          8 comments

          Poskan Komentar

          CANDI JAWI

          CANDI JAWI DILIHAT  DARI SISI BARAT
          Sang Surya mulai perlahan terbenam ke barat ketika kami tiba di Candi Jawi. Salah satu peninggalan Zaman Singosari. Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Pandaan - Prigen.  Jarak tempuhnya sekitar  20 Menit dari Kantor Pusat PASTIC.

          Setiba di komplek Candi Jawi, tanpa dipungut biaya sepeserpun, kami Tim PASTIC sudah disambut oleh pemandu yang bertugas.  Hari itu tepat hari Sabtu, ada beberapa pengunjung menikmati akhir pekannya dengan mengunjungi  Candi peninggalan Raja Singhasari terakhir ini, Kartenegara. 

          Pengunjung begitu menikmati suasana Candi Shiwa Budha yang bersahabat ini.  Dengan berfoto – foto di berbagai sudut candi, untuk mendapatkan keunikan bangunan candi. Keunikanya, terletak pada bahan batu yang terdiri dari dua jenis. Bagian bawah terdiri dari batu hitam, sedangkan bagian atas batu putih. Sehingga timbul dugaan, bahwa Candi Jawi dibangun dalam dua periode yang berbeda teknik bangunan. 

          Walau tanpa pemandu, ada juga pengunjung yang  mengelilingi candi yang dibangun pada abad 13  ini,  tentunya untuk menikmati sisi sejarahnya.  Pengunjung yang berkeliling  akan menemukan keunikan pada bagian kaki candi, berupa pahatan relief yang sampai saat ini belum diketahui maknanya secara pasti, yaitu relief yang menggambarkan tokoh wanita dan pengiring (punakawan)

          Kami tim PASTIC ( Pasuruan Tourism Center ) dalam kunjungan ke Candi Jawi , terbagi menjadi 2 tim. Tim pertama mencari informasi yang berkaitan dengan Sejarah Candi  Jawi. Tim kedua mencari  spot yang bagus, untuk mengambil gambar kemegahan Candi  yang terbuat dari batu, dengan ukuran luas 14,24 x 9,55 meter dan tinggi 24,50 meter ini.

          Tim Pertama PASTIC, duduk – duduk di sisi timur Candi Jawi, yang merupakan sisa – sisa dari Candi Parwara ( pendamping ), sebanyak 3 buah yang sudah tidak jelas lagi bentuknya.  Pemandu menjelaskan bahwa Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha. Sebenarnya merupakan tempat penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari.

          Kitab Negarakertagama, menamakan Candi Jawi ini dengan “Jajawa “ atau “ Jawa-Jawa “. Bagian yang paling menarik dari candi Jawi adalah puncak mahkotanya. Walau candi ini berpola khas candi Hindu seperti candi-candi di Jawa Timur pada umumnya, namun puncak candi tersusun atas 2 mahkota, yakni ratna-stupa 
          CANDI BENTAR MERUPAKAN PINTU MASUK MENUJU CANDI


          Tim kedua sambil mengambil gambar candi , mengamati tata letak Candi Jawi yang dikeliling kolam dengan lebar 2 meter. Sedangkan sisi Barat sekitar 200 Meter, ada reruntuhan bangunan yang terbuat dari batu bata. 

          Masih belum diketahui dengan jelas apa fungsi kolam yag menglilingi candi, dugaan sementara itu adalah pembatas untuk melidungi Candi Jawi. Bisa jadi juga, agar setiap pengunjung masuk dari arah barat. Dimana ternyata reruntuhan dari batu bata tadi, menurut pemandu yang kami temui adalah Candi Bentar yang berfungsi sebagai pintu gerbang menuju Candi Jawi.


          Kolam tersebut adalah representasi dari samudra terakhir dan teras besar diatasnya merupakan perwujudan dari benua Jambudwipa ( Sumatra ). Sedangkan Candi Jawi yang menjulang tinggi di tengah teras melambangkan gunung Meru ( Semeru ) sebuah gunung suci menjulang paling tinggi, sebagai paku dan penyeimbang Jambudwipa supaya tidak terombang-ambing ditengah samudra. Dipuncak gunung Meru inilah bersamayam para dewa-dewa.
          Candi Jawi merupakan model kesempurnaan perwujudan alam raya yang indah dalam sebuah mandala. Dalam konsep filosofi agama Hindu, disebutkan bahwa alam raya tersusun konsentris silih berganti atas serangkaian 7 samudra dan 7 benua.

          Pada konsep Jawa kuno bahwa pusat alam raya yang sekarang berada di Jawa. Gunung Meru-pun telah berubah namanya menjadi Semeru dan candi Jawi merupakan mandala-nya. 

          Demikian sempurna pengejawantahan konsep filosofi alam raya tersebut adalah juga gambaran dari kesempurnaan sang raja yang dimuliakan di candi tersebut yakni Kertanegara seperti termuat dalam kakawin Negarkertagama

          Semakin sore pemandangan di Candi makin menarik dilatar belakangi Gunung Penanggungan yang agung. Menikmati mentari yang seakan tertelan keagungan Penanggungan.  Hanya tinggal Tim PASTIC yang masih bertahan di area candi, mendengarkan cerita dari pemandu yang dengan sabar, melayani setiap pertanyaan yang kami ajukan
          .
          Dengan lokasi yang sangat strategis di jalur  wisata Prigen, terasa Candi Jawi kurang dipromosikan.  Untuk akhir pekan saja pengunjung yang datang bisa dihitung oleh jari. Masih kalah bersaing dengan pameren produk perdagangan yang letaknya beberapa Kilometer dari lokasi Candi.

          Alangkah indahnya bila disekitar Candi Jawi yang dikeliling taman ini dibangun area bermain yang menyenangkan bagi anak – anak. Selain bermain juga mendapatkan khasanah tentang kebesaran para leluhurnya.  Dibangun juga museum pendukukun untuk menempatkan bagian – bagian asli Candi Jawi  agar tetap lestari. Dipajang juga foto – foto proses rekontruksi candi untuk menghargai jasa mereka yang mencurahkan pemikiran dan tenaganya untuk pelestarian Candi Jawi ini.zal/p@stic)

           ________________________________________________________________________
          Note :
          Lokasi :Candiwates; Prigen; Pasuruan

          Kordinat GPS :
          S7.662660 - E112.669920

          Akses:


          Dari Surabaya : 
          Bus Jurusan Malang - turun di Terminal Pandaan-
          naik angkutan Jurusan Tretes atau Trawas - Turun di depan Komplek Candi Jawi


          Dari Malang : 

          Bus Jurusan Surabaya - turun di Terminal Pandaan-
          naik angkutan Jurusan Tretes atau Trawas - Turun di depan Komplek Candi Jawi


          4 comments

          Poskan Komentar

          Taman Budaya Candra Wilwatikta

          Sendra Tari Fenomenal Berkelas Internasional


          (Data didapat dari berbagai sumber)

          Kawasan Taman Candra Wilwatikta ini berbentuk seperti suatu lambang atau icon, disini pernah diadakan Festival tari ramayanasa se-Asia, dan panggung sendratari ini adalah panggung alami tebesar di Indonesia, dengan latar belakang gunung yang sangat menawan serta simetris sekali dengan dua gapura yang terdapat pada latar belakang panggung.

          Tujuan di bangunnya taman ini sebagai pusat kesenian dan budaya dapat terlihat dari panggung terbuka yang luas dengan beberapa gapura serta ornamen-ornamen pelengkap seperti arsitektur candi, Arca Dwarapala, yang menambah kesan eksotis tempat ini. Bila dilihat dari depan panggung maka anak tangga yang diapit dua gapura tersebut berada segaris dengan puncak gunung Penanggungan, rasanya saat kita menaiki tangga tersebut seakan–akan kita sedang menuju puncak gunung Penanggungan yang menawan.

          Secara arsitektural, karakter tempat yang terletak kurang lebih 3 KM dari Candi Jawi ini sangat lekat dengan budaya jawa kuno era kejayaan Kerajaan Majapahit dimana gapura, candi dan ornamen lainya terlihat selaras.

          Taman Candra Wilwatikta ini diresmikan oleh mantan presiden kedua RI H.Soeharto ( Alm ), pada tanggal 31 Agustus 1971, yang diabadikan di monumen yang berdiri dengan kokoh di area depan Taman Candra Wilwatikta.

          Area pementasan ini juga dilengkapi dengan tempat duduk dari beton yang diperkirakan dapat menampung lebih dari 500 penonton. Sayangnya, tempat ini terlihat kurang sentuhan sedangkan sisi kanan dan kiri sudah tertutup oleh rerumputan yang tingginya sampai 50cm-an. Hal itu menunjukkan di taman ini sudah jarang diadakan pementasan lagi dan berkurangnya minat masyarakat untuk menonton.

          Di bagian belakang panggung terdapat beberapa ruang penunjang seperti ruang suara, tempat ganti kostum dan merias wajah yang sudah terlihat rusak. Mungkin juga karena saking luasnya area Taman Candra Wilwatikta ini sehingga pengelola agak kewalahan dalam merawatnya. Taman Candra Wilwatikta juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas penunjang seperti penginapan di mana tarifnya berkisar antara Rp 80.000,- hingga Rp 400.000 semalam dan pendopo serba guna yang disewakan untuk umum (biasanya dipakai untuk menghelat acara resepsi perkawinan, pergelaran berbagai lomba seperti fashion show, melukis dan pencarian bakat bintang cilik atau untuk kegiatan resmi beberapa instansi pemerintahan ).

          Di area Taman Candra Wilwatikta juga terdapat lapangan luas yang sering digunakan untuk olahraga oleh pelajar dari beberapa sekolah di sekitar taman, sebelumnya lapangan ini sering difungsikan juga sebagai tempat penyelenggaraan even seperti pameran dan lomba burung, lomba memanah dan even-even yang lain. rasanya hanya fasilitas tersebut saja yang masih sering digunakan. Sedangkan area pementasan dan sekitarnya lebih sering didatangi oleh orang – orang yang ingin sekedar berjalan – jalan sekaligus berolahraga atau memberi makan Rusa yang ada di halaman depan taman Chandra Wilwatikta ini.

          Penangkaran rusa oleh BKSDA di Taman Chandra Wilwatikta adalah sebagai tempat konservasi satwa, sebagian kecil dari upaya untuk melestarikan satwa yang dilindungi ini. Telah ribuan rusa dikirim keberbagai Kebon Binatang diseluruh Indonesia berasal dari sini. Jika dilihat tempat penangkaran, fasilitas yang didapat rusa tidaklah istimewa karena sebenarnya memelihara rusa tidak begitu sulit seperti hewan langka lainnya.

          Namun demikian, memelihara hewan ini tetap membutuhkan keseriusan dan sentuhan kasih sayang, karena perilaku rusa sebenarnya sangat agresif. Sebelum mengenalnya lebih jauh, disarankan untuk melakukan pendekatan atau "personal approuch" mengingat rusa akan meraung-raung dan menendang kakinya ke orang yang belum dikenalnya. Tapi hal itu tidak akan berlangsung lama, ketika secara rutin memberinya perhatian ekstra dengan menyuguhinya makan dan minum serta membelai tubuhnya.

          Tidak banyak yang tahu, BKSDA Jawa Timur sebenarnya membuka kesempatan luas kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam rangka penangkaran rusa ini. Syaratnya sederhana saja, yakni niat tulus memelihara sambil melestarikan hewan energik ini dan membayar 5 juta rupiah untuk sepasang rusa yang telah dikeluarkan oleh BKSDA. Pengawasan rutin akan tetap dilakukan lembaga ini dengan mengontrol keberadaan rusa serta kesehatan dan pertumbuhannya kelak.

          Untuk sementara, ijin yang dikeluarkan oleh pihak BKSDA memang baru sebatas ijin untuk penangkaran. Sedangkan beberapa lapisan masyarakat menilai pertumbuhan rusa sangat cepat, sehingga bisa dijadikan salah satu alternatif bahan pangan berprotein tinggi.

          selain itu terdapat lahan untuk pembudidayaan tanaman agrikultural, seperti buah naga yang terdapat pada bagian timur dari area konservasi ini, yang luasnya diperkirakan kurang lebih 1 hektar. (kami tidak bisa menyebutkan persisnya karena belum mendapatkan sumber yang valid). zq/p@stic)


          Poskan Komentar

          Gunung Penanggungan


          Gunung dengan sejuta sejarah

          Gunung Penanggungan dengan ketinggian (1.659 mdpl) dahulunya bernama Gunung Pawitra yang artinya kabut, karena puncaknya yang runcing selalu tertutup kabut. Gunung Penanggungan dikelilingi oleh empat gunung di sekitarnya, yaitu Gn. Gajah Mungkur (1.084 m), Gn. Bekel (1.240 m), Gn.Sarahklopo (1.235 m), dan Gn. Kemuncup (1.238 m).

            gambar diambil dari http://gambar.mitrasites.com
            Letak gunung berapi tidur ini membelah Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang walaupun Gunung Penaggungan tak setinggi gunung-gunung tetangganya.

            Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Sehingga di masa itu ia dikenal sebagai Gunung Pawitra artinya Gunung kabut.
            Salah satu bagian kitab Jawa Kuna Tantu - Panggelaran yang digubah sekitar paruh pertama abad ke-16, menguraikan perihal mitologi gunung itu. Dikisahkan bahwa semula Jawadwipa selalu bergoncang-goncang, terombang-ambing oleh ombak Samudra India dan Laut Jawa. Para dewa di kahyangan telah memutuskan bahwa Tanah Jawa itu cukup baik untuk perkembangan peradaban manusia selanjutnya, oleh karena itu harus dihentikan goncangannya. Mereka lalu beramai-ramai memindahkan Gunung Mahameru (pusat alam semesta) yang semula tertancap di Jambhudwipa (India) ke Jawadwipa dengan cara menggotongnya bersama-sama, terbang di angkasa.

            Selama perjalanan, bagian-bagian lereng Gunung Mahameru berguguran, maka terciptalah rangkaian gunung-gunung dari Jawa bagian barat hingga Jawa Timur. Tubuh Mahameru yang berat jatuh berdebum menjadi Gunung Sumeru atau Semeru sekarang, gunung tertinggi di tanah Jawa.

            gambar diambil dari http://gambar.mitrasites.com
            Sedangkan puncaknya dihempaskan oleh para dewa jatuh di daerah selatan Mojokerto, menjelma menjadi Gunung Penanggungan sekarang, atau gunung berkabut Pawitra yang sebenarnya bagian puncak Mahameru.

            Tak mengherankan kiranya apabila Gunung Pawitra telah dimuliakan sejak waktu yang lama. Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan peninggalan arkeologi yang ditemukan di lerengnya, diketahui Penanggungan disakralkan sejak abad 10 M. Inkripsi tertua yang ditemukan adalah prasasti suci yang bertanggal 18 September 929 M. Prasasti itu dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Pu Sindok (atau dikenal dengan empu sindok) yang memerintahkan agar Desa Cunggrang dijadikan daerah bebas pajak (sima), penghasilan desa itu dipersembahkan bagi pemeliharaan bangunan suci Sanghyang Dharmasrama ing Pawitra dan Sanghyang Prasada Silunglung. Berdasarkan berita prasasti tersebut dapat ditafsirkan, pada masa itu telah terdapat bangunan suci (prasada) dan asrama bagi para pertapa di Pawitra.
            HAYAM WURUK (1350 -1389 M), raja Majapahit yang suka jalan-jalan itu pun pernah mampir di lereng timur Pawitra untuk menikmati keindahan. Disebutkan dalam Kakawin Nagarakrtagama pupuh 58 : 1, sang raja singgah di Cunggrang, asrama para pertapa yang terletak di tepi jurang yang curam. Dari tempat itu pemandangan ke arah Pawitra sangat menawan.
            Vegetasi yang menutupnya merupakan kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

            Sayangnya ekosistem di gunung ini sekarang sudah mulai rusak, terlihat setengah dari gunung ini sudah gersang, gundul tanpa pepohonan ditambah lagi daerah lerengnya sudah menjadi tegalan / ladang pisang dan jagung, juga sampah-sampah yang berserakan akibat para pendaki yang kurang memahami nilai - nilai tanggung jawab dan kesadaran terhadap pentingnya kelestarian lingkungan, hal ini yang membuat gunung ini sudah kehilangan suasana alaminya, akan tetapi view yang di tawarkan oleh gunung ini sayang untuk dilewatkan, fenomena ini yang membuat gunung penanaggungan selalu ramai di kunjungi para pendaki dari berbagai kawasan.

            bukan hanya view yang menarik yang ditawarkan tapi juga nilai-nilai sejarah yang sangat tinggi dapat ditemui disini diantaranya adalah Peninggalan sejumlah besar monumen dan artefak dari masa silam (abad 10 - 16 M) di lereng Penanggungan itu dilaporkan oleh arkeolog Belanda WF. STUTTERHEIM (1925). Eksplorasi awal itu hanya mengungkapkan kekayaan peninggalan kuna di kawasan tersebut. VR. VAN ROMONDT, insinyur yang arkeolog, mengadakan penelisikan secara menyeluruh di situs Gunung Penanggungan. Hasilnya sungguh menakjubkan!

            Salah satu peninggalan jaman kerajaan airlangga
            Di Penanggungan ditemukan tidak kurang dari 80 kepurbakalaan. Terdapat sekitar 50 monumen berupa punden berundak-undak dengan tiga altar persajian di teras teratasnya. Dinding punden-punden berundak adayang dihias dengan relief centa Sudhamala (kisah ruwat Dewi Durga), Arjunawiwaha (perkawinan Arjuna dengan Bidadari), Panji (kisah roman antara putra mahkota Janggala dan putri Kediri), Ramayana, dan kisah-kisah hewan. Kepurbakalaan lainnya berupa gua-gua pertapaan, deretan anak tangga batu mendaki bukit, area-area, gentong-gentong batu, altar persajian tunggal, batu dihias relief, prasasti, ribuan pecahan gerabah dari berbagai bentuk.
            Berdasarkan tafsiran dari berbagai bentuk data yang tersedia, baik berupa monumen, area-area, prasasti, uraian kitab kuna Arjunawiwaha, Nagarakrtagama, Arjunawijaya, Tantu Panggelaran, dan lainnya lagi, dapat diketahui dalam era Hindu-Buddha di Jawa, Gunung Pawitra merupakan pusat kegiatan kaum resi atau karsyan. Para resi adalah mereka yang mengundurkan diri dari dunia ramai, memilih hidup menyepi di keheningan alam pegunungan dan kehijauan hutan yang masih asri. Gunung Pawitra dijadikan pusat aktivitas keagamaan kaum resi, tentu berdasarkan pemikiran bahwa Pawitra tidak lain dari puncak Mahameru itu sendiri. Apabila para resi dan kaum pertapa itu bermukim di lerengnya, berarti lebih mendekati rahmat dewa, lebih mudah berkomunikasi dengan dunia Swarloka, tempat Girinatha (Siwa) dan dewa-dewa lainnya bersemayam.

            Tidak hanya Romondt yang kesengsem dengan gunung yang dianggap suci ini, W.F Sutterheim pun meneliti langsung situs purbakala yang ada di lereng gunung. Dari penelitiannya itu, dia menyimpulkan bahwa dahulu kala,punden berundak-undak yang jumlahnya puluhan itu berhubungan dengan tradisi pemujaan nenek moyang.
            Menurutnya, hal itu disebabkan oleh konsep religi (Hindu-Budha) Indonesia yang menganggap gunung sebagai tempat tinggal para leluhur yang sudah meninggal.
            Tidak hanya punden berundak-undak, ada beberapa candi yang dapat Anda jumpai saat menuruni lereng gunung, di antaranya Candi Gentong. Dinamakan Gentong karena pada candi tersebut terdapat batu yang mirip gentong dan sebuah altar.
            Selain Candi Gentong, ada Candi Sinta yang terdiri dari bangunan candi kecil, altar pemujaan kecil,dan bebatuan yang mirip nisan. Kemudian, Candi Jolotundo beserta candi-candi lain yang namanya tidak diketahui. Nah, bagi pencinta sejarah, peninggalan purbakala akan menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.
            Gunung Penanggungan ternyata tidak hanya cocok bagi yang suka mendaki, tetapi cocok bagi para sarjana ataupun pencinta sejarah yang memiliki rasa keingintahuan tinggi terhadap kepurbakalaan. zq/p@stic)

            _____________________________________________________________________

            Note :
            Koordinat :
            7.62°LS 112.63°BT / 7°37′S 112°38′E
             Ketinggian :
            1.653 meter (5.423 kaki) dpl
            Jenis pegunungan :
            Stratovolcano


            Poskan Komentar