Membelah Angkor Wat

Tak dapat disangkal lagi, inilah tujuan utama setiap turis yang berkunjung ke SeamReap, Kamboja. Angkor Wat, sebuah peninggalan purbakala yang telah ditetapkan UNESCO sebagai sebuah cagar budaya. Berdiri dengan gagah di area yang dikelilingi pagar seluas lebih dari 80 ha. Sementara sebuah sungai buatan yang sangat lebar mengelilingi pagar terluarnya. Diperkirakan dibangun sekitar 9 abad yang lalu oleh Raja Suryavarman II.

Tak sabar kami berdua segera menyeberangi jembatan sungai selebar hampir 200 meter itu, langsung menuju gerbang utama dengan tembok bebatuan, yang berdiri kokoh laksana benteng. Dibaliknya, terpampang hamparan tanah lapang yang super luas, dengan rerumputan segar berwarna hijau di kiri kanan pedestrian batu yang menuju gerbang di level kedua. Sempat saya berpikir, tanah lapang ini mungkin cukup menarik jika dijadikan latihan Sekolah Sepak Bola, bisa sampai menampung 10 lapangan.

Cukup jauh juga dari gerbang pertama menuju gerbang kedua, namun setidaknya pemandangan tanah lapang dengan sedikit pohon pinang yang berjajar. Serta keberadaan sepasang candi kecil di kiri kanan pedestrian, cukup menghibur dan mengurangi kelelahan kami. Hingga tanpa terasa, hampir 500 meter kami berjalan, gerbang level kedua telah menyambut dengan beberapa ornamen patung Ular Kobra yang disini dikenal dengan sebutan “Naga”. Setelah gerbang kedua inilah, kami mulai memasuki area yang levelnya lebih tinggi, tower-tower utama Angkor Wat mulai terlihat lebih jelas. Diantara gerbang kedua dan level ketiga ini pula, terdapat banyak relief dan ornamen khas Khmer. Semakin tidak sabar, kami segera masuk ke level ketiga yang merupakan area utama dari Kompleks Angkor Temple.

Level ketiga ini mulai terasa perbedaan yang mencolok. Hanya disinilah area alas candi tersusun atas batu-batuan datar yang membentuk alas, tidak seperti di level sebelumnya yang hanya beralas tanah pasir kuning kecoklatan. Di area ini keramaian turis mulai terlihat, lebih semarak lagi dengan keberadaan beberapa muda-mudi Kamboja yang berpakaian ala Khmer kuno sebagai media objek berfoto bersama. Semakin memasuki tangga demi tangga kedalam area utama, kami menyaksikan banyak kemegahan yang luar biasa, patung-patung berukuran besar dengan beberapa orang yang berdoa disekitarnya. Juga empat luasan patirtan (pemandian) yang telah mengering dengan susunan batu-batuan berukir yang rapi dan presisi. Cukup canggih juga di era itu peradaban sudah bisa membangun kolam renang diatas ketinggian.

Kekaguman kami masih belum habis, apalagi ketika berada disalah satu tower yang cukup tinggi. Pemandangan indah tersaji dari atas sini, gerbang dua dan gerbang satu nun jauh disana terlihat samar di senja menjelang gelap itu. Saya sempat merinding, merasa seolah menjadi seorang Jenderal yang waspada mengawasi musuh dari dalam tower benteng. Tanpa lelah, kami menjelajah satu demi satu masing-masing tower disana. Rasanya seperti menjelajah Candi Prambanan, namun kondisinya lebih megah dengan skala yang dikatakan luar biasa. Walaupun tentunya saya akui kondisinya masih lebih terawat candi-Candi yang ada di Jogjakarta.

Hampir dua jam kami berkeliling mulai dari gerbang Timur, berputar-putar di kompleks utama, serta berjalan menuju gerbang Barat. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Namun disini, kondisinya masih sedikit terang serasa pukul 17.30 di Surabaya. Segera kami bergegas berjalan lagi sejauh hampir 1,5 km menuju Gerbang Timur, karena Sopir Tuk-Tuk kami menunggu disana. Masih saya sempatkan mengambil gambar senja di tepi sungai yang mengelilingi Angkor Temple, sebelum gelap benar-benar menyergap. Walau terasa letih dan lunglai, setidaknya sore ini kami telah menikmati Trekking membelah kemegahan Angkor Wat yang Legendaris./soer.)


Posting Komentar