Jaran kencak

Antara Filosofi dan Tuntutan

Jaran kencak merupakan salah satu jenis kesenian yang digemari oleh suku Tengger. Tampilannya menarik (sangat eye catching) dan menghibur. Kuda-kuda yang dilatih menari dirias dengan berbagai pernak-pernik serta diberi semacam baju dari kain dan perhiasan dari monel. Di kaki mereka yang menghentak-hentak dipasang semacam gelang kaki yang dipasangi lonceng-lonceng agar terdengar suara gemerincing saat mereka menari.

Gending-gending jawa kuno ditabuh dari Gamelan pada suatu siang yang terik. Dua ekor kuda hitam, lengkap dengan kostum berwarna mencolok tiba-tiba masuk ke area pentas. Mengikuti aba-aba sang pelatih, kuda jenis sandel memperagakan aksinya, ditengah kerumunan penonton yang sudah memadati tempat mentas sejak pagi hari. Dua kuda itu mengangguk-angguk sembari mengepak-ngepakkan kakinya mengikuti tabuhan gamelan. Selain menari, dua kuda itu juga menunjukkan aksinya, duduk dan berdiri dengan dua kaki.

Setelah gending pertama dan kedua selesai dibawakan, para pesinden mulai bernyanyi gending-gending Tari Gandrung. Tak lama kemudian, seorang gadis berkostum Gandrung masuk ke area pentas. Sang Gandrung menari-nari, sesekali mengibaskan selendang merahnya ke arah kuda. Seperti layaknya manusia, dua ekor kuda itu terlihat kompak menari bersama Gandrung mengikuti tabuhan gamelan hingga selesai.

Sejarah jaran kencak atau jaran joget (kuda menari) berkaitan erat dengan nadzar orang tua mengenai anaknya. Biasanya orang tua suku Tengger bernadzar saat anak mereka bayi. Jika anaknya gesang (hidup), seger waras (segar-bugar), slamet (selamat) sampai cukup dewasa, nanti anaknya akan diarak keliling desa dengan menaiki jaran kencak saatsunat (khitan), saat tugel gombag (anak laki-laki) atau saat tugel kuncung (anak perempuan).

Dalam acara khitanan atau upacara tugel kuncung, anak laki-laki yang dikhitan atau anak yang dipotong kuncungnya dengan beberapa saudaranya yang sebaya dirias dan dinaikkan ke atas kuda lalu diarak keliling desa. Biasanya ada lima sampai sepuluh kuda yang disewa, tergantung jumlah manten (pengantin, dalam hal ini yang dimaksud adalah anak-anak yang dirias) yang ada. Kadang jika jumlah manten ada banyak, biasanya di bagian belakang tambahan berupa mobil yang dihiasi kertas krep warna-warni. Sepanjang jalan terdengar suara musik yang khas mengiringi arak-arakan kuda-kuda yang menari.

Dengan melihat besarnya peran kesenian ini, dapat disimpulkan bahwa kesenian jaran kencak ini sudah tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Tengger.


Posting Komentar