Filosofi dalam selembar kain batik

Ada istilah dalam bahasa jawa "Ajining Rogo Soko Busono", yang berarti penghargaan terhadap seseorang di tentukan dari cara berpakaian dan penampilan orang yang mengenakannya.

Dalam perkembangan dunia tekstil khususnya saat ini banyak dijumpai bahan-bahan yang bermotif batik. Batik sendiri merupakan salah satu warisan leluhur yang adiluhung. budaya bangsa sekaligus sebuah karya yang harus dilestarikan, tapi siapa yang menyangka dalam selembar kain batik mengandung filosofi yang sangat didalam, setiap garis dan coraknya sarat dengan makna.

Salah satu filosofi yang terkandung dalam selembar kain batik adalah ungkapan hati dari pembuatnya, ada harapan, do'a,dan cita-cita. Dalam proses pembuatannya tersirat nilai kebersamaan, dan gotong royong yang merupakan karakter dari bangsa indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. Bangsa lain boleh meniru motif batik negeri ini tapi mereka tak pernah mengerti apa yang terkandung dalam selembar kain batik.

Dalam satu motif kain batik terdapat rangkaian warna dan bentuk yang mencerminkan satu kesatuan yang saling mendukung, saling terkait, tak terpisahkan. Dalam membuat satu karya batik kita tidak bisa asal coret, artinya dalam membatik kita harus mengetahui dahulu tema apa yang akan kita ambil, dari situ kita akan dapat membuat satu karya batik yang kerkarakter, salah satu karya batik yang saat ini sudah mendunia adalah Batik Welirang Gondo Kusumo, Ciptaning Kusuma Wijaya dan Pasedahan Suropati serta Pasir Bromo, kesemua itu adalah Motif Batik Khas Kabupaten Pasuruan yang telah mendapatkan pengakuan di kanca internasional, setelah melakukan pameran di singapura, jepang, dan negara-negara lainnya.

Salah satu sanggar budaya yang ikut serta dalam pelestarian Karya Batik ini adalah Sanggar Dinar Agung yang merupakan pusat komunitas membatik di Kabupaten Pasuruan, sanggar ini merupakan bagian dari Taman Chandra Wilwatikta, yang digagas oleh Ibu Sri Kholifah atau lebih akrab dikenal dengan mbak iva, beliau dikenal sebagai salah satu seniman Batik senior di Pasuruan bahkan di Jawa timur, Karena binaanya sampai ke daerah-daerah lain.

Komunitas ini menonjolkan corak khas dari daerah, menggunakan warna alam yang menjadi unggulan Kabupten Pasuruan.

Sri Kholifah sendiri ingin menunjukkan bahwa Budaya indonesia, khususnya Karya seni Batik layak untuk kita jadikan satu kebanggaan seperti karya seni yang lainnya, karena Batik adalah cerminan dari Bangsa Indonesia.

Motif Batik yang telah dibuatnya juga binaan-binaannya semua memiliki karakter dan cerita dan harapan sendiri-sendiri, tapi tetap mengutamakan karakter gotong royong dan kebersamaan.

Motif Pasir Bromo satu contoh yang sangat menarik, dengan rangkaian warna yang sederhana, motif ini menggambarkan pesona panorama alam Lautan Pasir (Caldera) dari obyek wisata Gunung Bromo yang merupakan Kebanggan Kabupaten Pasuruan yang telah menjadi ikon wisata nasional dan telah dikenal secara internasional.

Filosofi lain yang dapat kita ambil dalam proses pembuatannya adalah membatik bukan hal yang mudah karena batik bukan sekedar hasta karya coretan tanpa makna tapi dalam selembar kain batik disana ada kerja keras, ketelatenan, kepedulian, keindahan, kesabaran, pembelajaran diri dan imajinasi yang tinggi.
Yang sangat disayangkan saat ini batik banyak digunakan hanya sekedar menjadi hiasan, baik itu hiasan dinding, hiasan pembalut tubuh, ornamen pendukung dekorasi dan lainnya bahkan menjadikan batik sebagai seragam sekolah dan seragam kerja tanpa diketahui oleh si pengguna apa makna dibalik batik yang digunakannya.zq/p@stic)


1 komentar:

  1. ajining rogo soko busono, sy suka skali dgn kalimat itu, yg memulai tulisan tentang batik ini. cocok bgt gitu loh

    BalasHapus