KARIMUNJAWA ARCHIPELAGO

Karimun Jawa

Hamparan laut biru Karimun Jawa terpampang di hadapan, pemandangan yang melegakan hati.

Terdengar suara berteriak kegirangan dari penumpang kapal Feri Muria. Maklum saja, mereka telah lelah,  setelah  6 jam, berada dalam kapal berlebihan muatan ini.

Sebuah penantian yang panjang, penuh penderitaan demi untuk menikmati KARIMUNJAWA ARCHIPELAGO dengan 27 pulaunya. Begitu indah dan alami.

Kami para backpacker dari seluruh Indonesia, yang dengan sukses membuat kapal Feri Muria kelebihan muatan, langsung berhamburan keluar kapal. Seperti seorang narapidana yang baru saja dibebaskan dari  sel penjara.

Dengan didampingi tour leader, kami diarahkan untuk menuju  mobil jemputan, yang akan membawa kami ke homestay. 

Mobil yang menjemput kami kuno sekali, buatan tahun 70-an. Seperti yang digunakan di film Laskar Pelangi. Teringat Laskar Pelangi, hati ini menyakinkan diri bahwa sedang berada di karimun Jawa bukan di Belitong , salah satu tempat yang wajib dikunjungi para Backpacker, tempat Ikal dan Lintang belajar di sekolah Muhamadiyah yang hampir roboh itu.

Homestay kami sangat sederhana, yang juga rumah salah seorang warga Karimun Jawa, dengan menginap di rumah warga, kedekatan dengan warga sekitar akan cepat terjalin. Setiba di homestay, tubuh yang telah  lemas menemukan mangsanya, tempat tidur dengan sprei yang masih baru. Jatah satu Kamar dibagi untuk 6 orang dengan 2 springbed, satu orang mendapat jatah satu bantal.

Suara gemerincing sendok, garpu dan piring mulai terdengar. Mereka yang sedang kelaparan menuntaskan hajatnya. Menu hari ini cumi - cumi ( squidward ) mendengarnya suara sendok dan garpu saling beradu, sungguh sebuah penderitaan. Kebetulan hari pertama di Karimun itu saya sedang puasa. Puasa akibat kekecewaan yg mendalam, antara cinta dan benci yang membara. Kekecewaan yg akan segera bayar tuntas di Karimun Jawa atau jika tidak, biarkan tubuh ini menjadi santapan hiu yang sedang berbulan madu.

Matahari perlahan tenggelam, kami rombongan dari Surabaya beserta backpacker lainya dari Medan, Jakarta dan Tasikmalaya ( nanti akan saya kenalkan siapa saja meraka dan latar belakangnya ) menuju dermaga untuk menikmati Sunset Karimun Jawa. Pulau yang telah ditetapkan oleh pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional, sejak 15 Maret 2001.

Berburu Bintang Laut

Sambil berfoto – foto dengan latar belakang Sunset, kami saling mengenal satu sama lain .  Menikmati aktifitas warga Karimun yang mayoritas bekerja sebagai nelayan dan pelayan jasa wisata.

Segerombolan anak muda turun dari kapal, jika melihat tabung oksigen yang mereka bawa, sepertinya baru saja pulang dari latihan menyelam. Tentunya, latihan itu sebagai bekal, bagi mereka untuk menjadi pemandu wisata kelak, karena potensi wisata di kawasan ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan.

Matahari sudah tidak tampak lagi dan menutup segala aktifitas di dermaga.

Keesokan harinya petualangan menuju pulau – pulau  kecil dimulai. Dengan semangat Pejantan Tangguh  telah bersiap menjamah “PERAWAN JAWA” julukannya, paras perairanya sangat bening, pasirnya amat putih bersih. Hari pertama bersama perawan jawa, akan kami habiskan di pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil dengan jasa kapal nelayan. Kami akan berenang, bersnorkling, berjemur ria dan makan ikan laut.

Kapal nelayan telah menunggu di dermaga, kami siap untuk berangkat dengan pelampung yang  telah menempel ala kadarnya. Mesin kapal telah dinyalakan, meraung - raung menunjukkan kesiapanya menerjang ombak. Kapal mulai melaju, melewati riak - riak kecil gelombang lautan. Hati gembira, berteriak kegirangan, setiap ada percikan air laut yang menyentuh, membasahi tubuh kami. Hari itu adalah hari dimana untuk pertama kalinya menyadari bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut dan kami sebagai anak cucunya siap meneruskan tradisi itu.

Wajah sumringah, penuh kebahagian, terlihat diantara para backpacker yang datang dari nusantara. Kapal elayan makin lama menjauhi  Karimun. Bicara soal ama Karimun sendiri , nama itu diberikan oleh Sunan Muria, salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa. Berasal dari  kata kremun – kremun , karena terlihat samar – samar bila dilihat dari Gunung Muria. Di pulau inilah tempat "pembuangan" Syech Amir Hasan Putra Sunan Muria, untuk memperdalam ilmu agama. 

Berjemur dan Bermain pasir

Setelah 30 menit perjalanan, pulau Karimun sudah kremun - kremun dari kapal nelayan. Kami
menuju surga terumbu karang, hutan bakau, hutan pantai, serta hampir 400 spesies fauna laut. 
Diantaranya 242 jenis ikan hias, 90 jenis karang keras, telah siap menyambut kedatangan kami.

Dengan jarak tempuhh 14 mil ( sekitar 22 km ) dari kepulauan Karimunjawa, kami telah tiba di pantai Pulau Menjangan Kecil, kapal nelayan berhenti dan melempar jangkar. Dengan briefing ala kadarnya pemandu memperagakan cara penggunaan peralatan snorkling dan kaki katak. Sepertinya tidak peduli bahwa tidak semua peserta bisa berenang, yang bisa berenangpun sedikit was – was, karena berenang di laut tidak sama dengan berenang di kolam renang.

Herannya yang tidak bisa berenangpun sangat antusias, dan dengan tekat bangsa pelaut,  sudah siap untuk turun dari kapal, segera berenang bersama ikan. Pesan moral dari kisah ini, jika anda ingin pandai berenang, jangan belajar di kolam renang, belajarlah di Pulau Menjangan Kecil, karena ikan - ikan disana adalah pelatih renang yang handal.

Tanpa mempedulikan skill berenang dan snorkling, dengan tidak sabar kami semua turun ke laut, karena sudah tidak tahan melihat betapa biru dan jernih airnya dan ikan hias yang lucu – lucu seperti melambaikan tanganya menyambut kami semua maka sejak itu urusan keamanan menjadi nomer dua. Sudah tidak peduli lagi dengan bulu babi yang berbahaya dan tersebar disana. Jika terkena bulu babi tersebut, resikonya kami harus dibawa ke Puskemas terdekat dan kita semua tahu, tidak ada Puskesmas di laut lepas.

SNORKLING

Kecerahan kedalaman laut Menjangan Kecil antara 5-7 meter mampu memanjakan mata. Tak lelah, melihat ke dalam laut yang indah ini penuh aneka ikan warna warni, terumbu karang yang masih alami. Sang pemandu mengajak kami untuk menyaksikan Nemo ( Clownfish ). Ingat adegan ketika Marlin ( Ayah Nemo ) sedang mencari Nemo ? Seperti itulah rasanya snorkling di Pulau Menjangan Kecil. Disini Nemo yang kami cari sepertinya malu – malu, dia sedang sibuk bermain di terumbu karangnya. 

Salah satu anak pantai  Karimun Jawa dengan kemampuan berenang dan menyelamnya. Berusaha menangkap Nemo tanpa alat snorkling dan kaki katak . Tidak mudah memang menangkapnya., selain tubuhnya yang mungil, terumbu karang yang masih subur dan alami menjadi tempat persembuyuian yang nyaman. Dengan skill yan luar biasa, akhirnya berhasil juga dia menangkap si Nemo dan mempersembahkan ikan itu kepada manusia darat seperti kami ini, untuk keperluan narsisme, berfoto bersama Nemo dan menjadi Photo Profile Facebook.

Pulau Menjangan Kecil


Tidak puas dengan itu, kami menuju kapan nelayan, mengambil camilan, snack, nasi sebagai persediaan makanan, untuk kami berikan kepada gerombolan ikan – ikan hias. Ikan - ikan itu wajib kelaparan agar mau kami kasih makan, demi kesenangan kami pribadi. Rasanya menyenangkan sekali, memberi mereka makan langsung di dalam laut dan karena makanan itulah, ikan – ikan mengerubungi kami untuk antri, mendapatkan jatah makanan. Selain ikan yang beribu - ribu jumlahnya, pemandangan Karang Merah  khas Karimun Jawa ( Tubipora musica ) makin menambah keindahan suasana dalam laut.

Setelah puas bersnorkling, kami naik kembali ke kapal nelayan menuju Pulau Menjangan Kecil untuk beristirahat. Hari mulai mendung dan hujan rintik – rintik mulai turun. Sepertinya tidak puas berenang di laut kami kembali menghabiskan waktu bermain pasir putih dan mencari karang – karang dan bintang laut, tidak peduli tubuh mulai menggigil dan kulit mulai layu karena kedinginan. Acara hari itu ditutup dengan makan ikan bakar. Senang, puas dan kenyang.  zal/p@stic)



Posting Komentar