Gunung Penanggungan


Gunung dengan sejuta sejarah

Gunung Penanggungan dengan ketinggian (1.659 mdpl) dahulunya bernama Gunung Pawitra yang artinya kabut, karena puncaknya yang runcing selalu tertutup kabut. Gunung Penanggungan dikelilingi oleh empat gunung di sekitarnya, yaitu Gn. Gajah Mungkur (1.084 m), Gn. Bekel (1.240 m), Gn.Sarahklopo (1.235 m), dan Gn. Kemuncup (1.238 m).

    gambar diambil dari http://gambar.mitrasites.com
    Letak gunung berapi tidur ini membelah Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang walaupun Gunung Penaggungan tak setinggi gunung-gunung tetangganya.

    Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Sehingga di masa itu ia dikenal sebagai Gunung Pawitra artinya Gunung kabut.
    Salah satu bagian kitab Jawa Kuna Tantu - Panggelaran yang digubah sekitar paruh pertama abad ke-16, menguraikan perihal mitologi gunung itu. Dikisahkan bahwa semula Jawadwipa selalu bergoncang-goncang, terombang-ambing oleh ombak Samudra India dan Laut Jawa. Para dewa di kahyangan telah memutuskan bahwa Tanah Jawa itu cukup baik untuk perkembangan peradaban manusia selanjutnya, oleh karena itu harus dihentikan goncangannya. Mereka lalu beramai-ramai memindahkan Gunung Mahameru (pusat alam semesta) yang semula tertancap di Jambhudwipa (India) ke Jawadwipa dengan cara menggotongnya bersama-sama, terbang di angkasa.

    Selama perjalanan, bagian-bagian lereng Gunung Mahameru berguguran, maka terciptalah rangkaian gunung-gunung dari Jawa bagian barat hingga Jawa Timur. Tubuh Mahameru yang berat jatuh berdebum menjadi Gunung Sumeru atau Semeru sekarang, gunung tertinggi di tanah Jawa.

    gambar diambil dari http://gambar.mitrasites.com
    Sedangkan puncaknya dihempaskan oleh para dewa jatuh di daerah selatan Mojokerto, menjelma menjadi Gunung Penanggungan sekarang, atau gunung berkabut Pawitra yang sebenarnya bagian puncak Mahameru.

    Tak mengherankan kiranya apabila Gunung Pawitra telah dimuliakan sejak waktu yang lama. Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan peninggalan arkeologi yang ditemukan di lerengnya, diketahui Penanggungan disakralkan sejak abad 10 M. Inkripsi tertua yang ditemukan adalah prasasti suci yang bertanggal 18 September 929 M. Prasasti itu dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Pu Sindok (atau dikenal dengan empu sindok) yang memerintahkan agar Desa Cunggrang dijadikan daerah bebas pajak (sima), penghasilan desa itu dipersembahkan bagi pemeliharaan bangunan suci Sanghyang Dharmasrama ing Pawitra dan Sanghyang Prasada Silunglung. Berdasarkan berita prasasti tersebut dapat ditafsirkan, pada masa itu telah terdapat bangunan suci (prasada) dan asrama bagi para pertapa di Pawitra.
    HAYAM WURUK (1350 -1389 M), raja Majapahit yang suka jalan-jalan itu pun pernah mampir di lereng timur Pawitra untuk menikmati keindahan. Disebutkan dalam Kakawin Nagarakrtagama pupuh 58 : 1, sang raja singgah di Cunggrang, asrama para pertapa yang terletak di tepi jurang yang curam. Dari tempat itu pemandangan ke arah Pawitra sangat menawan.
    Vegetasi yang menutupnya merupakan kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

    Sayangnya ekosistem di gunung ini sekarang sudah mulai rusak, terlihat setengah dari gunung ini sudah gersang, gundul tanpa pepohonan ditambah lagi daerah lerengnya sudah menjadi tegalan / ladang pisang dan jagung, juga sampah-sampah yang berserakan akibat para pendaki yang kurang memahami nilai - nilai tanggung jawab dan kesadaran terhadap pentingnya kelestarian lingkungan, hal ini yang membuat gunung ini sudah kehilangan suasana alaminya, akan tetapi view yang di tawarkan oleh gunung ini sayang untuk dilewatkan, fenomena ini yang membuat gunung penanaggungan selalu ramai di kunjungi para pendaki dari berbagai kawasan.

    bukan hanya view yang menarik yang ditawarkan tapi juga nilai-nilai sejarah yang sangat tinggi dapat ditemui disini diantaranya adalah Peninggalan sejumlah besar monumen dan artefak dari masa silam (abad 10 - 16 M) di lereng Penanggungan itu dilaporkan oleh arkeolog Belanda WF. STUTTERHEIM (1925). Eksplorasi awal itu hanya mengungkapkan kekayaan peninggalan kuna di kawasan tersebut. VR. VAN ROMONDT, insinyur yang arkeolog, mengadakan penelisikan secara menyeluruh di situs Gunung Penanggungan. Hasilnya sungguh menakjubkan!

    Salah satu peninggalan jaman kerajaan airlangga
    Di Penanggungan ditemukan tidak kurang dari 80 kepurbakalaan. Terdapat sekitar 50 monumen berupa punden berundak-undak dengan tiga altar persajian di teras teratasnya. Dinding punden-punden berundak adayang dihias dengan relief centa Sudhamala (kisah ruwat Dewi Durga), Arjunawiwaha (perkawinan Arjuna dengan Bidadari), Panji (kisah roman antara putra mahkota Janggala dan putri Kediri), Ramayana, dan kisah-kisah hewan. Kepurbakalaan lainnya berupa gua-gua pertapaan, deretan anak tangga batu mendaki bukit, area-area, gentong-gentong batu, altar persajian tunggal, batu dihias relief, prasasti, ribuan pecahan gerabah dari berbagai bentuk.
    Berdasarkan tafsiran dari berbagai bentuk data yang tersedia, baik berupa monumen, area-area, prasasti, uraian kitab kuna Arjunawiwaha, Nagarakrtagama, Arjunawijaya, Tantu Panggelaran, dan lainnya lagi, dapat diketahui dalam era Hindu-Buddha di Jawa, Gunung Pawitra merupakan pusat kegiatan kaum resi atau karsyan. Para resi adalah mereka yang mengundurkan diri dari dunia ramai, memilih hidup menyepi di keheningan alam pegunungan dan kehijauan hutan yang masih asri. Gunung Pawitra dijadikan pusat aktivitas keagamaan kaum resi, tentu berdasarkan pemikiran bahwa Pawitra tidak lain dari puncak Mahameru itu sendiri. Apabila para resi dan kaum pertapa itu bermukim di lerengnya, berarti lebih mendekati rahmat dewa, lebih mudah berkomunikasi dengan dunia Swarloka, tempat Girinatha (Siwa) dan dewa-dewa lainnya bersemayam.

    Tidak hanya Romondt yang kesengsem dengan gunung yang dianggap suci ini, W.F Sutterheim pun meneliti langsung situs purbakala yang ada di lereng gunung. Dari penelitiannya itu, dia menyimpulkan bahwa dahulu kala,punden berundak-undak yang jumlahnya puluhan itu berhubungan dengan tradisi pemujaan nenek moyang.
    Menurutnya, hal itu disebabkan oleh konsep religi (Hindu-Budha) Indonesia yang menganggap gunung sebagai tempat tinggal para leluhur yang sudah meninggal.
    Tidak hanya punden berundak-undak, ada beberapa candi yang dapat Anda jumpai saat menuruni lereng gunung, di antaranya Candi Gentong. Dinamakan Gentong karena pada candi tersebut terdapat batu yang mirip gentong dan sebuah altar.
    Selain Candi Gentong, ada Candi Sinta yang terdiri dari bangunan candi kecil, altar pemujaan kecil,dan bebatuan yang mirip nisan. Kemudian, Candi Jolotundo beserta candi-candi lain yang namanya tidak diketahui. Nah, bagi pencinta sejarah, peninggalan purbakala akan menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.
    Gunung Penanggungan ternyata tidak hanya cocok bagi yang suka mendaki, tetapi cocok bagi para sarjana ataupun pencinta sejarah yang memiliki rasa keingintahuan tinggi terhadap kepurbakalaan. zq/p@stic)

    _____________________________________________________________________

    Note :
    Koordinat :
    7.62°LS 112.63°BT / 7°37′S 112°38′E
     Ketinggian :
    1.653 meter (5.423 kaki) dpl
    Jenis pegunungan :
    Stratovolcano


    2 komentar:

    1. Mungkin perlu pengawasan lebih ketat untuk para pendaki, kita orang Indonesia kan sulit utk patuh sama aturan kalau ga diawasi.

      BalasHapus
      Balasan
      1. mungkin berbagi kesadaran itu akan lebih membantu... tp masalahnya seberapa besar teman2 kita yang memiliki kesadaran seperti anda, dan seberapa banyak tmn2 yg mau menerima kesadaran yang anda miliki... semua memang perlu diperjuangkan...

        Hapus