Arjuno Wlirang



Gunung Wlirang
Gunung Welirang (atau Walirang, nama kuna) merupakan sebuah gunung yang terdapat di Kab Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. "Welirang" dalam bahasa Jawa berarti belerang. Gunung Welirang mempunyai ketinggian setinggi 3,156 meter dan memiliki kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Arjuno
Gunung Arjuno (atau Gunung Arjuna, dalam nama kuna) terletak di Kab. Pasuruan Jawa Timur, bertipe Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl dan berada di bawah Pengelolaan Tahura Raden Soeryo. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu.

Gunung Arjuno bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuno terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang. Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuno dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah timur Batu, Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.

Gunung Arjuno mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

View Arjuno Wlirang dari puncak penanggungan
Gunung Arjuno dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang dan Purwosari) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.

Arjuno Wlirang merupakan sebuah rangkaian pegunungan yang menawan, yang membelah dua daerah yaitu Malang dan Pasuruan, Jalur Pendakian bisa ditempuh dari beberapa titik yaitu dari Purwosari, dan Tretes- Prigen Kab. Pasuruan serta Cangar (Kab. Malang), masing masing mempunyai kelebihan,

1. JALUR PURWOSARI
    Jika kita melalui Jalur Purwosari, maka kita akan menemukan banyak situs-situs purbakala peninggalan masa Majapahit dan Singhasari. Salah satunya adalah situs pertapaan Bathara Guru. 
    Tambakwatu Kecamatan Purwodadi, merupakan desa terakhir sebelum memasuki hutan Lalijiwo, Penuh aroma mistis
    Setelah melewati desa Tambak Watu sekitar dua jam jalan kaki, juga akan di jumpai beberapa peninggalan purbakala di tengah-tengah hutan. Selain itu jalur Purwosari juga menyajikan panorama yang mengagumkan, dengan jurang-jurangnya yang membelalakan mata, sayang sekali untuk dilewatkan.

    Jalur ini yang lumayan berat, karena membutuhkan waktu lebih dari 10 jam perjalanan. Jalur ini sangat cocok untuk pecinta olahraga ekstrim, karena memiliki banyak tantangan, tak heran di jalur ini juga telah banyak menelan korban.

    2.JALUR TRETES
        Jalur tretes adalah jalur yang paling menarik bagi pecinta wisata, karena disana akan banyak dijumpai spot-spot menarik. Mulai air terjun, bumi perkemahan, dan di bumbuhi oleh pemandangan para penambang belerang yang lalu lalang.

        Perjalanan melalui jalur tretes dimulai dari Sitompul ( pintu masuk ke kawasan camp ground)   Kami belum bisa mendapatkan informasi kenapa tempat itu di sebut demikian. Selama perjalanan akan ditemui beberapa pos pemberhentian yang pertama yaitu :



        • Pos Perijinan
        Tepat disebelah Kantor Perhutani dan berhadapan kita akan menemukan sebuah pos .  Disanalah perijinan dan administrasi dilakukan, sebelum masuk ke kawasan, Arjuno Wlirang.

        ARJUNO WLIRANG
        Kelengkapan administrasi untuk perijinan biasanya kita diminta untuk meninggalkan KTP atau Tanda Pengenal yang lain. Serta mengisi Form data diri dan kesanggupan, serta check list peralatan dan perlengkapan juga logistik, dan membayar biaya perijinan sebesar Rp.4.100,- (sudah termasuk asuransi).

        Di sanalah tempat kita mempersiapkan segala sesuatunya, kekurangan logistik bisa membeli barang-barang yang di butuhkan di toko sekitar tempat ini, dan bisa menyewa peralatan dan perlengkapan yang di butuhkan di pos perijinan.
        • Pep Bocor
        Sekitar 1-2 jam jalan kaki, beberapa tahun yang lalu tempat ini masih sangat rimbun dan menarik untuk pemula.  Seiring dengan perkembangan tempat ini mulai rusak karena pepohonan yang dah telah berubah menjadi tanaman jagung dan pisang,. Jalannya sudah tdk alami lagi, karena telah dibangun jalur untuk mobil pengangkut belerang sejak beberapa tahun yang lalu. Para pecinta alam tidak perlu kuatir,  masih ada beberapa spot yang menarik yang bisa di temukan disini,  :

        Kurang lebih 1 sampai 1,5 jam perjalanan kearah barat pep bocor kita akan menemukan air terjun Alap - Alap, sangat menakjubkan dengan tebing-tebing batu yang cadas menambah keanggunannya, 

        Melalui jalur ini, kita juga bisa masuk kedalam area camp ground dan wanawisata air terjun Kakek Bodo, sehingga jalur ini paling ramai di lalui
        • Kop-kopan
        Ini adalah pos tempat pemberhentian para penambang belerang yang pertama, disana terdapat beberapa pondokan tempat istirahat para penambang belerang yang dibangun dengan fasilitas seadanya. Ini yang sangat menarik karena kita juga bisa ikut masuk dan beristirahat didalamnya selama penghuninya sedang tidak ada.

        Kop-kopan juga menawarkan pemandangan yang anggun dari tempat ini kita bisa melihat puncak Wlirang, puncak Limas, gunung Ringgit dan gunung Penanggungan yang mempunyai banyak mitos dan sejarah. Kita akan sampai di tempat ini setelah perjalanan kurang lebih 3-4 jam dari pep bocor dengan jalan kaki.

        Di tempat inilah mulai terasa suasana alam rimba, karena ini adalah jalur terakhir atau pemberhentian mobil pengangkut belerang setelah itu kita akan masuk kedalam Alas Lali Jiwo ( Hutan lali jiwo ), yang terkenal dengan suasana mistisnya.
        • Pondokan
        Pondokan adalah pos terakhir pemberhentian dan tempat transit para penambang belerang dan para pendaki, untuk menuju ke puncak kita dapat mencapainya dalam waktu 3-4 jam perjalanan dari kop-kopan.

        Selama perjalanan kita akan di temani dengan lebatnya pepohonan alas Lali Jiwo dan jurang-jurang yang membentang serta banyaknya burung Johan yang berjalan ditanah dan sesekali terbang untuk berpindah tempat.

        Jika kita beruntung kita akan ditemui kijang ( Rusa)  juga budheng (monyet hitam besar), tapi jika kita sedang sial kita akan bertemu dengan babi hutan yang tak segan-segan akan mengejar kita.
        Disini kita dituntut untuk sangat berhati-hati karena hutan ini dikenal sangat angker dan sudah banyak memakan korban.

        Pondokan juga merupakan persimpangan untuk menuju puncak wlirang melalui jalan setapak ke barat puncaknya bisa di tempuh dalam waktu sekitar 2-3 jam, atau menuju jalan setapak kea rah timur jika menghendaki menuju puncak arjuno, melalui lembah kijang yang dapat di tempuh selama 3-4 jam.

        Lembah kijang adalah sabana yang sangat luas, tapi juga sering kali membuat para pendaki tersesat, karena di lembah kijang ini, track atau jalur pendakian sering kali hilang karena tumbuhnya rumput-rumputan yang menutupi jalur.

        Puncak wlirang adalah puncak paling barat dari rangkaian pengunungan ini, disana menawarkan panaroma yang eksotis dari kawah wlirang, dan suasana puncak yang menawan.

        Dari puncak Wlirang kita bisa menuju puncak Anjasmoro dan gunung kembar tapi akan memakan waktu sehari lagi perjalanan, disana akan tampak panorama yang yang tak kalah menariknya.

        Sayangnya dengan banyaknya pendaki yang mengunjungi pegunungan ini masih sedikit tingkat kesadaran mereka akan kelestariannya. Hal ini tampak dengan banyaknya sampah bungkus mie instant dan botol air mineral, juga bungkus dari produk-produk yang tak ramah lingkungan berserakan selama perjalan dan juga coretan-coretan di batu dan pepohonan.

        Kesimpulannya, seberapa sadar sih masyarakat ini akan kelestarian lingkungan, jawabannya pasti sudah ada di hati kita masing-masing, tinggal bagaimana cara kita untuk berpartisipasi dengan memulai mengingatkan orang-orang disekitar kita tentang rusaknya bumi kita ini,zq/p@stic)

        keep action save our nature 







        9 komentar:

        1. the amazing mountain

          BalasHapus
        2. para alumni universitas pep bocor... kembali berkumpul

          BalasHapus
        3. gan berapa jalur sih yang ada di gunung ini?

          Andi

          BalasHapus
        4. @bang andi : setahu kami jalur yang pernah kami lalui adalah jalur kebun teh (Lawang), Tambakwatu (Purwosari dari pegadean naik), Dari Cangar (Batu), Pacet (Mojokerto), dan yang paling sering di lalui adalah dari tretes (Prigen Pasuruan), pos perijinannya persis di depan tanjung plasa hotel, untuk jalur yang lain ada juga yang melalui gunung ringgit dulu lewat dayu dan sekitarnya, tapi kami merekomendasikan melalui jalur yang umum dilalui saja yaitu melalui tretes-prigen pasuruan karena lebih aman, terima kasih atas perhatiannya, jika membutuhkan pemandu untuk jalur2 yang lain kami siap untuk memfasilitasi..

          BalasHapus
        5. Mas tlng ea kalo mau hiking ke anjasmoro dari bawah pos adminitrasinya dmana/naiknya dr mana? Tlng sms ke nmer ini 085732633307

          BalasHapus
        6. @ sweet septian: kalau benar yang anda maksudkan adalah gunung anjasmoro yang ada di pengunungan anjasmoro, cukup membayar tiket masuk lokasi di kawasan coban talun anda bisa naik gunung mas.

          CREW P@STIC

          BalasHapus
        7. Mas Andi : saya tambahkan sedikit mas Andi, untuk jalur yang sudah disebutkan rekan saya diatas masih ada beberapa jalur lagi, seperti pandaan, kaliandra (purwosari), dan Singasari.


          CREW P@ASTIC

          BalasHapus
        8. bang mau tanya .. welirang udah buka kah?

          BalasHapus