• On the Street Festival

    On the Street Festival

    >Festival tahunan yang diadakan dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Pasuruan.

  • Ecoculture

    Bromo Tengger

    Panorama menakjubkan dengan hamparan kaldera dan keramahan warga suku tengger menjadikan gunung Bromo salah satu Tujuan utama wisata internasional.

  • Candi Belahan

    Candi Belahan

    Salah satu dari sekian banyak situs purbakala yang memiliki keunikan tersendiri, dengan udara sejuk dan air mancur dari sumber alami yang jernih menjadikan kedamaian dan kenyamanan saat berwisata di candi ini.

  • Festival

    Pasuruan Festival

    Festival tahunan yang diadakan dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Pasuruan.

  • Ragam Budaya

    Budaya yang menjadikan daya tarik indonesia dimata dunia

    .

  • Kuliner

    Nasi Punel

    Kuliner Lezat Khas Bangil, rasa yang pulen dan legit dipadukan dengan daging dendeng atau empal, menjadikan kuliner ini lebih nikmat

Prasasti Cungrang

Terik mentari masih kami rasakan tatkala berkendara di raya Gempol, yang merupakan jalan arteri Malang – Surabaya. Walau sudah tidak terlalu macet seperti dulu, sebagai imbas selesainya tembusan jalan tol. Akan tetapi padatnya lalu lintas yang didominasi kendaraan-kendaraan besar cukup membuat kami gerah juga.
Sembari menyelinap disela-sela kendaraan berukuran raksasa, kami terus berbelok kearah Barat dari pertigaan Kejapanan. Tujuan kami adalah menyambangi sejenak situs bersejarah Cungrang, salah satu Prasasti yang turut andil dalam sejarah Pasuruan.
Lokasi Prasasti ini masih In Situ atau masih berada dilokasi aslinya, berada di jalan raya Surabaya – Malang masuk kearah Barat yaitu di Balai dusun Sukci, desa Bulusari Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Prasasti Cungrang ini dikeluarkan pada hari Jum’at Pahing tanggal 12 Suklapaksa, bukan Asuji tahun 851 Saka atau pada tanggal 18 September 929 Masehi.

Prasasti Cungrang merupakan peninggalan dari Mpu Sindok, yang bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa. Memerintah Kerajaan Medang dari tahun 929 hingga 947 yang memindahkan kerajaan Medang dari Poh Pitu, Kedu ke Watugaluh Jawa Timur. Menurut teori Van Bemmelen ada dugaan perpindahan tersebut dikarenakan Bencana Alam ( letusan Gunung Merapi ) yang mengakibatkan kehancuran Kerajaan dan sector perekonomian kerajaan Medang.
Tidak terlalu lama kami sudah tiba di lokasi prasasti, tidak ada pagar atau tempat khusus yang menjadi batas teritori disekitar prasasti. Hanya sebuah papan penunjuk sederhana yang terpasang sebagai identitas salah satu lokasi bersejarah di Kabupaten Pasuruan ini. Meski demikian, kondisinya masih cukup terawat, pula oleh warga sekitar turut dijaga dan dilestarikan dengan baik.

Isi dari Prasasti ini adalah Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa (Mpu Sindok) menurunkan perintah kepada Pu Kuala, agar Desa Cunggrang yang termasuk wilayah Bawang di bawah pemerintahan Wahuta Wungkal dijadilan Sima. Atau tanah perdikan untuk pertapaan di Pawitra dan prasada silunglung sang siddha dewata rakryan Bawang, ayah rakryan binihaji sri prameswari dyah kbi. Tugas penduduk yang daerahnya dijadikan perdikan ialah memerlihara pertapaan dan prasada, juga memperbaiki bangunan pancuran di Pawitra.
Dari isi prasasti itu, ada dua nama tempat yang perlu mendapat perhatian yaitu Cunggrang dan Pawitra. Wilayah Cunggrang tentunya tidak jauh dari tempat prasasti ditemukan (di Desa Sukci sekarang), Nama Cunggrang terdapat juga di dalam pupuh Nagarakertagama diantaranya Pupuh 58 : Warna I sah nira rin jajawa rin, padameyan ikan dinunun, Mande cungran apet kalanon numabas in wanadealnon Darmma karsyan I parcwanin acala pawitra inaran Ramya nika panunan, lurahlurah bhasa kbidun. Artinya : Tersebut dari Jajawa Baginda berangkat ke Desa Padameyan. Berhenti di Cunggrang, mencari pemandangan, masuk hutan rindang. Kearah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang. Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.
Tentang Pademeyan dapat diidentifikasi dengan Kedamaian yang terletak di sebelah utara Kapulungan. Satu kilometer dari desa Kedamaian ditemukan pula reruntuhan bangunan candi desa Keboireng. Pada pupuh 78 Negarakertagama disebut Desa Keresian seperti berikut: Sampud, Rupit dan Pilan. Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun. Di situ terbentang taman, didirikan lingga dan saluran air. Yang mulia Mahaguru – demikian sebutan beliau.
Dari segi linguis pawitra (bhs Sansekerta) berarti alat pembersih yang dapat menghilangkan kleca (cacat, dosa, noda), jadi yang mempunyai kekuatan untuk membersihkan atau mencapai sesuatu yang bersih, murni, bebas dari bahaya, keramat, suci atau kudus. Pawitra memang terkenal sebagai nama lama Gunung Penanggungan. Di Pawitra terdapat bangunan pertapaan (sang hyang dharmmacrama ing pawitra) bangunan pemandian (sang hyang tirtha panenran ing pawitra).
Tidak terlalu banyak memang yang kami dapatkan disana, informasi sebagian besar justru kami dapatkan dari media lain. Namun setidaknya, keberadaan Situs ini cukup dikenal oleh warga Gempol dan sekitarnya. Dan ini adalah pertanda baik agar warga dan pemerintah bisa bekerja sama melestarikan situs-situs bersejarah. Prasasti Cungrang ini juga diyakini sebagai cikal bakal berdirinya wilayah pasuruan. Menjelang siang, kami pun mengakhiri kunjungan di Cungrang, lantas bersiap-siap menuju Candi Belahan yang akan kami bahas pada artikel lain disini.


Read more

Secuil kisah dari Kemilau Kerajinan Perhiasan




Berjalan menyusuri sudut-sudut perkampungan di kota Bangil Kabupaten Pasuruan, berharap menemukan sesuatu yang menarik untuk dijadikan kenang-kenangan. Usai mengobati lapar dengan sarapan sepiring Nasi Punel, tiba-tiba perhatian ini tertarik pada sekelompok orang sedang mengerjakan logam mengkilat. Beberapa diantaranya membakar dengan alat tradisional seperti blander las karbit, satu orang menggiling logam dengan mesin seperti mesin pembuat kulit pisang molen tapi lebih besar. Serta sebagian lagi mengerjakan pekerjaan lainnya. Saya mencoba mendekati dan mencari tahu, ternyata mereka sedang mengerjakan kerajinan perhiasan.

Memang pada era tahun 80-90an bangil sempat menjadi sentra industri kerajinan logam mulia seperti perhiasan emas, perak. Bahkan ada yang terbuat dari tembaga dan juga stainless, karena pada waktu itu hasil kerajinan perhiasan ini di pasarkan ke hampir seluruh penjuru indonesia, pula sebagian perajin bisa mendapatkan mitra dari luar negeri untuk pemasarannya.

Sekarang hasil kerajinan perhiasan dari daerah ini lebih banyak di jumpai di luar daerah seperti Surabaya, Bali, Jogjakarta dan beberapa pulau lainya, akan tetapi menjadi langka di daerah ini sendiri. Pemandangan aneh ini tentunya bukan tidak beralasan, sejak terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998 geliat aktifitas para pengajin perhiasan ini mulai merosot. Ditambah lagi ketika terjadinya peristiwa bom bali, karena pasar terbesar dari kerajinan ini adalah Bali. Dimana para buyer dari luar negeri datang ke indonesia melakukan transaksinya sambil berwisata. Fakta ini berdampak pada masyarakat perajin perhiasan dimana banyak diantara mereka bermigrasi ke Bali untuk mengembangkan usaha di disana, sehingga di daerah Bangil sendiri menjadi lebih sepi.


Karya dari perajin perhiasan di Bangil ini sudah diakui tak kalah dari daerah lain.Bahkan beberapa perajin mengerjakan pesanan khusus dari pabrik pengolahan perhiasan emas. Walaupun pengerjaannya masih secara dan dengan alat tradisional.


Ketika kita melihat ke dalam proses pengerjaanya di sebuah besali (sebutan untuk bengkel kerajian logam mulia). Emas atau perak sudah dimasak kemudian di lebur untuk dijadikan lempengan tebal. Setelah itu lempengan hasil leburan tadi di blendes (proses pengepresan dengan mesin seperti mesin pembuat kulit molen), proses blendes ini menyesuaikan dengan ketebalan yang diminta, untuk kemudian di bentuk sesuai dengan pesanan.

Usai dibentuk, sekarang waktunya untuk memasang pengunci dari batu permatanya dengan cara di patri (dibakar untuk melelehkan logam seperti pada pengelasan asetilin). Kemudian di poles untuk menghaluskan sekaligus membuat lebih bersih dan mengkilap. Terakhir tinggal di cuci dengan klerek untuk menghiangkan sisa-sisa gram dan kotorannya, hingga di pasang batu permatanya menjadi sebuah perhiasan.

Untuk cincin perak seberat 5 gram cukup dengan 100 ribu rupiah saja, sudah dihiasi batu permata cantik, lumayan buat kenang-kenangan setelah setengah cuma hari melihat bapak-bapak perajin mengolahnya.zq/)


Read more

AIR TERJUN WONOSARI


Selain terkenal dengan udara yang sejuk, daerah Nongkojajar juga memiliki banyak ragam kekayaan sumber daya alam yang menarik untuk disinggahi. Salah satunya adalah produksi susu yang cukup melimpah, bahkan mampu menjadi komoditi yang melayani suplai bahan baku industri susu terkenal.

Begitu pula dengan kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Nongkojajar. Salah satu daerah di Kabupaten Pasuruan ini senantiasa menyajikan keramahan tamahan sehingga cukup layak dikunjungi sebagai sebuah destinasi wisata.
 
Didukung juga dengan panorama dan obyek-obyek alam yang indah, Nongkojajar sebenarnya mampu menjadi magnet wisata alam yang berpotensi menarik kunjungan turis. Salah satu destinasi alam itu adalah Air Terjun Wonosari. Nama Wonosari diambil karena Air Terjun ini terdapat di daerah Wonosari, sebuah desa di wilayah Nongkojajar yang akan kita lewati ketika menuju ke Gunung Bromo.


Air terjun ini memiliki keunikan tersendiri, karena di bagian bawahnya yang dipenuhi oleh gemuruh jatuhnya air, terdapat sisa-sisa bangunan kuno peninggalan belanda. Konon menurut warga sekitar, disini dulu digunakan sebagai pembangkit listrik dan pusat suplai air untuk sebuah hotel pada jaman belanda.


Dengan ketinggian sekitar 30 meter, debit air yang cukup banyak, dan juga area pandang yang cukup luas. Tempat ini menjanjikan kenyamanan bagi mata kita untuk menikmati keindahannya. Namun sayang, di titik-titik tertentu masih ada saja sampah yang berceceran. Kendati kondisinya belum sampai parah, namun keberadaan sampah-sampah itu cukup mengganggu. Andaikata kebersihan air terjun ini tetap dijaga, mungkin akan terlihat lebih nyaman dan sempurna untuk dinikmati kecantikannya.



Read more